<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591</id><updated>2012-03-19T19:55:47.456-07:00</updated><category term='selamanya'/><category term='SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL'/><category term='Buruk Sangka'/><category term='PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH'/><category term='Macam dan Jenis Penyakit Hati atau Sifat Buruk - Iri Hati'/><category term='Dengki'/><category term='1 JANUARI 2010'/><category term='Copel Mhd Adit'/><category term='Fitnah'/><category term='dan Khianat - Definisi dan Pengertian'/><category term='Hasut'/><category term='PAI 2009-2010 PAK GUNAWAN'/><title type='text'>agama itu adalah</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>10</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-5064728862414621906</id><published>2011-08-07T15:53:00.000-07:00</published><updated>2011-08-07T15:53:27.848-07:00</updated><title type='text'>AGAMA ISLAM</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.faras-shadiq.blogspot.com"&gt;agama islam&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad n. Dengan Islam Allah mengakhiri serta menyempurnakan agama-agama lain untuk para hamba-Nya. Dengan Islam pula, Allah menyempurnakan kenikmatan-Nya dan meridhai Islam sebagai dien-Nya. Oleh karena itu tidak ada lain yang patut diterima, selain Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi…” (Al Ahzab 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai Islam itu jadi agama bagimu…” (Al Maidah 3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (Al Imran 19)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Al Imran 85)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah mewajibkan seluruh umat manusia agar memeluk agama Islam karena Allah. Hal ini sebagaimana telah difirmankan-Nya kepada Rasul-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Katakanlah: Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk.” (Al A’raf 158)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ، لاَ يَسْمَعُ بِيْ أَحَدٌ مِنْ هَذِهِ اْلأُمَّةِ يَهُوْدِيٌّ أَوْ نَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوْتُ وَلَمْ&lt;br /&gt;يُؤْمِنْ بِالَّذِيْ أُرْسِلْتُ بِهِ إِلاَّ كَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّارِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Demi Tuhan yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, tidak seorang pun dari umat ini, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengar tentang aku, kemudian mati tidak mengimani sesuatu yang aku diutus karenanya kecuali dia termasuk penghuni Neraka.” (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengimani Nabi SAW artinya, membenarkan dengan penuh penerimaan dan kepatuhan terhadap segala yang dibawanya, bukan hanya membenarkan semata. Oleh karena itulah Abu Thalib (paman Nabi) dikatakan bukan orang yang mengimani Nabi, walaupun ia membenarkan apa yang dibawa oleh keponakannya itu dan dia juga mengakui bahwa Islam adalah agama terbaik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam mencakup seluruh kemaslahatan yang dikandung oleh agama-agama terdahulu. Islam mempunyai keistimewaan, yaitu relevan untuk setiap masa, tempat, dan umat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman kepada Rasul-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu…” (Al Maidah 48)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam dikatakan relevan untuk setiap masa, tempat dan umat, maksudnya adalah bahwa berpegang teguh pada Islam tidak akan menghilangkan kemaslahatan umat di setiap waktu dan tempat. Bahkan dengan Islam, umat akan menjadi baik. Tetapi bukan berarti Islam tunduk pada waktu, tempat dan umat, seperti yang dikehendaki sebagian orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam adalah agama yang benar. Allah menjamin kemenangan kepada orang yang memegangnya dengan baik. Hal ini dikatakan-Nya dalam firman-Nya, yang artinya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Qur’an) dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (At Taubah 33)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amalan-amalan yang shalih bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembahKu dengan tiada mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji itu), maka mereka itulah orang-orang yang fasik.” (An Nuur 55)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Islam merupakan aqidah dan syariat. Islam adalah agama yang sempurna dalam aqidah dan syariat, karena:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Memerintahkan bertauhid dan melarang syirik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Memerintahkan bersikap jujur dan melarang berbuat bohong/dusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Memerintahkan berbuat adil dan melarang perbuatan lalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adil artinya menyamakan yang sama dan membedakan yang berbeda, bukan persamaan secara mutlak seperti yang dikatakan sebagian orang yang mengatakan bahwa Islam adalah agama persamaan yang mutlak. Menyamakan hal-hal yang berbeda merupakan kelaliman yang tidak dianjurkan oleh Islam, dan pelakunya pun tidak terpuji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Memerintahkan untuk bersikap amanat dan melarang khianat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Memerintahkan untuk menepati janji dan melarang ingkar janji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Memerintahkan berbakti kepada ibu-bapak serta melarang menyakitinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Memerintahkan bersilaturahmi/menyambung hubungan dengan kerabat dekat, serta melarang memutuskannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Memerintahkan berbuat baik dengan tetangga melarang berbuat jahat kepada mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara umum Islam memerintahkan agar bermoral baik dan melarang bermoral buruk. Islam juga memerintahkan setiap perbuatan baik, dan melarang perbuatan yang buruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (An Nahl 90)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.faras-shadiq.blogspot.com"&gt;agama islam&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-5064728862414621906?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/5064728862414621906/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2011/08/agama-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/5064728862414621906'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/5064728862414621906'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2011/08/agama-islam.html' title='AGAMA ISLAM'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-6643364582576182556</id><published>2010-05-07T05:48:00.000-07:00</published><updated>2010-05-07T05:48:42.059-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='selamanya'/><title type='text'>Mengenal Makanan Haram</title><content type='html'>Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim no. 1015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Makanan HARAM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BANGKAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”: (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11) Syaikh Muhammad Nasiruddin Al–Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Daraqutni: 538).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. (Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’Am: 145) Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih.Semuanya itu hukumnya halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”. (Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DAGING BABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. BINATANG BUAS BERTARING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim no. 1933)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/118-119) Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilanganpendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama’pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing,gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. (Shahih. HR. Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim no. 1934)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : “Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: ” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan’ani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. AL-JALLALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki. (HR. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah melarang dari memakan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya”(HR Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. (Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum jalalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-’Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. (Lihat Fathul Bari (9/648) oleh Ibnu Hajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3/32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits: “Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhob baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi) “Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” (HR Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. ” (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular” )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan” (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)” “Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916). Imam Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” (Lihat Al-Majmu’ (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. (Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi). “Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya. (HR Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. BINATANG YANG HIDUP DI 2 (DUA) ALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh beberapa dalil hewan hidup di dua alam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPITING – hukumnya HALAL sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad.(Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURA-KURA dan PENYU – juga HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANJING LAUT – juga HALAL sebagaimana pendapat imam Malik, Syafe’i, Laits, Syai’bi dan Al-Auza’i (lihat Al-Mughni 13/346).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATAK/KODOK – hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapt yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Share and Enjoy:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim no. 1015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Makanan HARAM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BANGKAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”: (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11) Syaikh Muhammad Nasiruddin Al–Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Daraqutni: 538).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. (Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’Am: 145) Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih.Semuanya itu hukumnya halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”. (Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DAGING BABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. BINATANG BUAS BERTARING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim no. 1933)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/118-119) Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilanganpendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama’pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing,gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. (Shahih. HR. Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim no. 1934)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : “Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: ” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan’ani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. AL-JALLALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki. (HR. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah melarang dari memakan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya”(HR Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. (Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum jalalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-’Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. (Lihat Fathul Bari (9/648) oleh Ibnu Hajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3/32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits: “Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhob baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi) “Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” (HR Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. ” (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular” )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan” (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)” “Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916). Imam Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” (Lihat Al-Majmu’ (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. (Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi). “Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya. (HR Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. BINATANG YANG HIDUP DI 2 (DUA) ALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh beberapa dalil hewan hidup di dua alam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPITING – hukumnya HALAL sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad.(Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURA-KURA dan PENYU – juga HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANJING LAUT – juga HALAL sebagaimana pendapat imam Malik, Syafe’i, Laits, Syai’bi dan Al-Auza’i (lihat Al-Mughni 13/346).&lt;br /&gt;KATAK/KODOK – hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapt yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-6643364582576182556?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/6643364582576182556/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/05/mengenal-makanan-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/6643364582576182556'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/6643364582576182556'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/05/mengenal-makanan-haram.html' title='Mengenal Makanan Haram'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-5725424223985136284</id><published>2010-04-07T03:48:00.001-07:00</published><updated>2010-04-07T03:48:41.339-07:00</updated><title type='text'>Mengenal Makanan Haram</title><content type='html'>Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim no. 1015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Makanan HARAM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BANGKAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”: (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11) Syaikh Muhammad Nasiruddin Al–Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Daraqutni: 538).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. (Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’Am: 145) Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih.Semuanya itu hukumnya halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”. (Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DAGING BABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. BINATANG BUAS BERTARING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim no. 1933)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/118-119) Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilanganpendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama’pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing,gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. (Shahih. HR. Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim no. 1934)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : “Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: ” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan’ani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. AL-JALLALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki. (HR. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah melarang dari memakan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya”(HR Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. (Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum jalalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-’Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. (Lihat Fathul Bari (9/648) oleh Ibnu Hajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3/32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits: “Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhob baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi) “Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” (HR Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. ” (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular” )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan” (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)” “Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916). Imam Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” (Lihat Al-Majmu’ (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. (Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi). “Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya. (HR Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. BINATANG YANG HIDUP DI 2 (DUA) ALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh beberapa dalil hewan hidup di dua alam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPITING – hukumnya HALAL sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad.(Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURA-KURA dan PENYU – juga HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANJING LAUT – juga HALAL sebagaimana pendapat imam Malik, Syafe’i, Laits, Syai’bi dan Al-Auza’i (lihat Al-Mughni 13/346).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KATAK/KODOK – hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapt yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Share and Enjoy:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam memerintahkan kepada pemeluknya untuk memilih makanan yang halal serta menjauhi makanan haram. Rasulullah bersabda: “Dari Abu Hurairah ra berkata : Rasulullah saw bersabda: ” Sesungguhnya Allah baik tidak menerima kecuali hal-hal yang baik, dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mu’min sebagaimana yang diperintahkan kepada para rasul, Allah berfirman: “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan firmanNya yang lain: “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu” Kemudian beliau mencontohkan seorang laki-laki, dia telah menempuh perjalanan jauh, rambutnya kusut serta berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit: Yaa Rabbi ! Yaa Rabbi ! Sedangkan ia memakan makanan yang haram, dan pakaiannya yang ia pakai dari harta yang haram, dan ia meminum dari minuman yang haram, dan dibesarkan dari hal-hal yang haram, bagaimana mungkin akan diterima do’anya”. (HR Muslim no. 1015).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jenis Makanan HARAM:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. BANGKAI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu hewan yang mati bukan karena disembelih atau diburu. Hukumnya jelas haram dan bahaya yang ditimbulkannya bagi agama dan badan manusia sangat nyata, sebab pada bangkai terdapat darah yang mengendap sehingga sangat berbahaya bagi kesehatan. Bangkai ada beberapa macam sbb :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;A. Al-Munkhaniqoh yaitu hewan yang mati karena tercekik baik secara sengaja atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;B. Al-Mauqudhah yaitu hewan yang mati karena dipukul dengan alat/benda keras hingga mati olehnya atau disetrum dengan alat listrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;C. Al-Mutaraddiyah yaitu hewan yang mati karena jatuh dari tempat tinggi atau jatuh ke dalam sumur sehingga mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;D. An-Nathihah yaitu hewan yang mati karena ditanduk oleh hewan lainnya (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim 3/22 oleh Imam Ibnu Katsir).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun bangkai haram hukumnya tetapi ada yang dikecualikan yaitu bangkai ikan dan belalang berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: ” Dihalalkan untuk dua bangkai dan dua darah. Adapun dua bangkai yaitu ikan dan belalang, sedang dua darah yaitu hati dan limpa.” (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan hal 27 edisi 4/Th.11)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululah juga pernah ditanya tentang air laut, maka beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Laut itu suci airnya dan halal bangkainya.”: (Shahih. Lihat Takhrijnya dalam Al-Furqan 26 edisi 3/Th 11) Syaikh Muhammad Nasiruddin Al–Albani berkata dalam Silsilah As-Shahihah (no.480): “Dalam hadits ini terdapat faedah penting yaitu halalnya setiap bangkai hewan laut sekalipun terapung di atas air (laut)? Beliau menjawab: “Sesungguhnya yang terapung itu termasuk bangkainya sedangkan Rasulullah bersabda: “Laut itu suci airnya dan halal bangkainya” (HR. Daraqutni: 538).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hadits tentang larangan memakan sesuatu yang terapung di atas laut tidaklah shahih. (Lihat pula Al-Muhalla (6/60-65) oleh Ibnu Hazm dan Syarh Shahih Muslim (13/76) oleh An-Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. DARAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yaitu darah yang mengalir sebagaimana dijelaskan dalam ayat lainnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Atau darah yang mengalir” (QS. Al-An’Am: 145) Demikianlah dikatakan oleh Ibnu Abbas dan Sa’id bin Jubair. Diceritakan bahwa orang-orang jahiliyyah dahulu apabila seorang diantara mereka merasa lapar, maka dia mengambil sebilah alat tajam yang terbuat dari tulang atau sejenisnya, lalu digunakan untuk memotong unta atau hewan yang kemudian darah yang keluar dikumpulkan dan dibuat makanan/minuman. Oleh karena itulah, Allah mengharamkan darah pada umat ini. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir 3/23-24).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun darah adalah haram, tetapi ada pengecualian yaitu hati dan limpa berdasarkan hadits Ibnu Umar di atas tadi. Demikian pula sisa-sisa darah yang menempel pada daging atau leher setelah disembelih.Semuanya itu hukumnya halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan: “Pendapat yang benar, bahwa darah yang diharamkan oleh Allah adalah darah yang mengalir. Adapun sisa darah yang menempel pada daging, maka tidak ada satupun dari kalangan ulama’ yang mengharamkannya”. (Dinukil dari Al-Mulakhas Al-Fiqhi 2/461 oleh Syaikh Dr. Shahih Al-Fauzan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. DAGING BABI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Babi baik peliharaan maupun liar, jantan maupun betina. Dan mencakup seluruh anggota tubuh babi sekalipun minyaknya. Tentang keharamannya, telah ditandaskan dalam al-Qur’an, hadits dan ijma’ ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. SEMBELIHAN UNTUK SELAIN ALLAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni setiap hewan yang disembelih dengan selain nama Allah hukumnya haram, karena Allah mewajibkan agar setiap makhlukNya disembelih dengan nama-Nya yang mulia. Oleh karenanya, apabila seorang tidak mengindahkan hal itu bahkan menyebut nama selain Allah baik patung, taghut, berhala dan lain sebagainya , maka hukum sembelihan tersebut adalah haram dengan kesepakatan ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. HEWAN YANG DITERKAM BINATANG BUAS&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakni hewan yang diterkam oleh harimau, serigala atau anjing lalu dimakan sebagiannya kemudia mati karenanya, maka hukumnya adalah haram sekalipun darahnya mengalir dan bagian lehernya yang kena. Semua itu hukumnya haram dengan kesepakatan ulama. Orang-orang jahiliyah dulu biasa memakan hewan yang diterkam oleh binatang buas baik kambing, unta,sapi dsb, maka Allah mengharamkan hal itu bagi kaum mukminin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hewan yang diterkam binatang buasa apabila dijumpai masih hidup (bernyawa) seperti kalau tangan dan kakinya masih bergerak atau masih bernafas kemudian disembelih secara syar’i, maka hewan tersebut adalah halal karena telah disembelih secara halal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. BINATANG BUAS BERTARING&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : “Dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “Setiap binatang buas yang bertaring adalah haram dimakan” (HR. Muslim no. 1933)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui bahwa hadits ini mutawatir sebagaimana ditegaskan Imam Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (1/125) dan Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/118-119) Maksudnya “dziinaab” yakni binatang yang memiliki taring atau kuku tajam untuk melawan manusia seperti serigala, singa,anjing, macan tutul, harimau,beruang,kera dan sejenisnya. Semua itu haram dimakan”. (Lihat Syarh Sunnah (11/234) oleh Imam Al-Baghawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits ini secara jelas menunjukkan haramnya memakan binatang buas yang bertaring bukan hanya makruh saja. Pendapat yang menyatakan makruh saja adalah pendapat yang salah. (lihat At-Tamhid (1/111) oleh Ibnu Abdil Barr, I’lamul Muwaqqi’in (4-356) oleh Ibnu Qayyim dan As-Shahihah no. 476 oleh Al-Albani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Ibnu Abdil Barr juga mengatakan dalam At-Tamhid (1/127): “Saya tidak mengetahui persilanganpendapat di kalangan ulama kaum muslimin bahwa kera tidak boleh dimakan dan tidak boleh dijual karena tidak ada manfaatnya. Dan kami tidak mengetahui seorang ulama’pun yang membolehkan untuk memakannya. Demikianpula anjing,gajah dan seluruh binatang buas yang bertaring. Semuanya sama saja bagiku (keharamannya). Dan hujjah adalah sabda Nabi saw bukan pendapat orang….”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama berselisih pendapat tentang musang. Apakah termasuk binatang buas yang haram ataukah tidak ? Pendapat yang rajih bahwa musang adalah halal sebagaimana pendapat Imam Ahmad dan Syafi’i berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abi Ammar berkata: Aku pernah bertanya kepada Jabir tentang musang, apakah ia termasuk hewan buruan ? Jawabnya: “Ya”. Lalu aku bertanya: apakah boleh dimakan ? Beliau menjawab: Ya. Aku bertanya lagi: Apakah engkau mendengarnya dari Rasulullah ? Jawabnya: Ya. (Shahih. HR. Abu Daud (3801), Tirmidzi (851), Nasa’i (5/191) dan dishahihkan Bukhari, Tirmidzi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al- Baihaqi, Ibnu Qoyyim serta Ibnu Hajar dalam At-Talkhis Habir (1/1507).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apakah hadits Jabir ini bertentangan dengan hadits larangan di atas? ! Imam Ibnu Qoyyim menjelaskan dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/120) bahwa tidak ada kontradiksi antara dua hadits di atas. Sebab musang tidaklah termasuk kategori binatang buas, baik ditinjau dari segi bahasa maupun segi urf (kebiasaan) manusia. Penjelasan ini disetujui oleh Al-Allamah Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi (5/411) dan Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani dalam At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3-28)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. BURUNG YANG BERKUKU TAJAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits : Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah melarang dari setiap hewan buas yang bertaring dan berkuku tajam” (HR Muslim no. 1934)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Al-Baghawi berkata dalam Syarh Sunnah (11/234): “Demikian juga setiap burung yang berkuku tajam seperti burung garuda, elang dan sejenisnya”. Imam Nawawi berkata dalam Syarh Shahih Muslim 13/72-73: “Dalam hadits ini terdapat dalil bagi madzab Syafi’i, Abu Hanifah, Ahmad, Daud dan mayoritas ulama tentang haramnya memakan binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku tajam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. KHIMAR AHLIYYAH (KELEDAI JINAK)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Jabir berkata: “Rasulullah melarang pada perang khaibar dari (makan) daging khimar dan memperbolehkan daging kuda”. (HR Bukhori no. 4219 dan Muslim no. 1941) dalam riwayat lain disebutkan begini : “Pada perang Khaibar, mereka menyembelih kuda, bighal dan khimar. Lalu Rasulullah melarang dari bighal dan khimar dan tidak melarang dari kuda. (Shahih. HR Abu Daud (3789), Nasa’i (7/201), Ahmad (3/356), Ibnu Hibban (5272), Baihaqi (9/327), Daraqutni (4/288-289) dan Al-Baghawi dalam Syarhu Sunnah no. 2811).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits di atas terdapat dua masalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama : Haramnya keledai jinak. Ini merupakan pendapat jumhur ulama dari kalangan sahabat, tabi’in dan ulama setelah mereka berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas seperti di atas. Adapaun keledai liar, maka hukumnya halal dengan kesepakatan ulama. (Lihat Sailul Jarrar (4/99) oleh Imam Syaukani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua : Halalnya daging kuda. Ini merupakan pendapat Zaid bin Ali, Syafi’i, Ahmad, Ishaq bin Rahawaih dan mayoritass ulama salaf berdasarkan hadits-hadits shahih dan jelas di atas. Ibnu Abi Syaiban meriwayatkan dengan sanadnya yang sesuai syarat Bukhari Muslim dari Atha’ bahwa beliau berkata kepada Ibnu Juraij: ” Salafmu biasa memakannya (daging kuda)”. Ibnu Juraij berkata: “Apakah sahabat Rasulullah ? Jawabnya : Ya. (Lihat Subulus Salam (4/146-147) oleh Imam As-Shan’ani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. AL-JALLALAH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal ini berdasarkan hadits :&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah melarang dari jalalah unta untuk dinaiki. (HR. Abu Daud no. 2558 dengan sanad shahih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dalam riwayat lain disebutkan: Rasulullah melarang dari memakan jallalah dan susunya.” (HR. Abu Daud : 3785, Tirmidzi: 1823 dan Ibnu Majah: 3189).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya berkata: Rasulullah melarang dari keledai jinak dan jalalah, menaiki dan memakan dagingnya”(HR Ahmad (2/219) dan dihasankan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maksud Al-Jalalah yaitu setiap hewan baik hewan berkaki empat maupun berkaki dua-yang makanan pokoknya adalah kotoran-kotoran seperti kotoran manuasia/hewan dan sejenisnya. (Fahul Bari 9/648). Ibnu Abi Syaiban dalam Al-Mushannaf (5/147/24598) meriwayatkan dari Ibnu Umar bahwa beliau mengurung ayam yang makan kotoran selama tiga hari. (Sanadnya shahih sebagaimana dikatakan Al-Hafidz dalam Fathul Bari 9/648).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Baghawi dalam Syarh Sunnah (11/254) juga berkata: “Kemudian menghukumi suatu hewan yang memakan kotoran sebagai jalalah perlu diteliti. Apabila hewan tersebut memakan kotoran hanya bersifat kadang-kadang, maka ini tidak termasuk kategori jalalah dan tidak haram dimakan seperti ayam dan sejenisnya…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hukum jalalah haram dimakan sebagaimana pendapat mayoritas Syafi’iyyah dan Hanabilah. Pendapat ini juga ditegaskan oleh Ibnu Daqiq Al-’Ied dari para fuqaha’ serta dishahihkan oleh Abu Ishaq Al-Marwazi, Al-Qoffal, Al-Juwaini, Al-Baghawi dan Al-Ghozali. (Lihat Fathul Bari (9/648) oleh Ibnu Hajar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebab diharamkannya jalalah adalah perubahan bau dan rasa daging dan susunya. Apabila pengaruh kotoran pada daging hewan yang membuat keharamannya itu hilang, maka tidak lagi haram hukumnya, bahkan hukumnya hahal secara yakin dan tidak ada batas waktu tertentu. Al-Hafidz Ibnu Hajar menjelaskan (9/648): “Ukuran waktu boelhnya memakan hewan jalalah yaitu apabila bau kotoran pada hewan tersebut hilang dengan diganti oleh sesuatu yang suci menurut pendapat yang benar.”. Pendapat ini dikuatkan oleh imam Syaukani dalam Nailul Authar (7/464) dan Al-Albani dan At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah (3/32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10. AD-DHAB (HEWAN SEJENIS BIAWAK) BAGI YANG MERASA JIJIK DARINYA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan hadits: “Dari Abdur Rahman bin Syibl berkata: Rasulullah melarang dari makan dhab (hewan sejenis biawak). (Hasan. HR Abu Daud (3796), Al-Fasawi dalam Al-Ma’rifah wa Tarikh (2/318), Baihaqi (9/326) dan dihasankan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (9/665) serta disetujui oleh Al-Albani dalam As-Shahihah no. 2390).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar terdapat beberapa hadits yang banyak sekali dalam Bukhari Muslim dan selainnya yang menjelaskan bolehnya makan dhob baik secara tegas berupa sabda Nabi maupun taqrir (persetujuan Nabi). Diantaranya , Hadits Abdullah bin Umar secara marfu’ (sampai pada nabi) “Dhab, saya tidak memakannya dan saya juga tidak mengharamkannya.” (HR Bukhari no.5536 dan Muslim no. 1943)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11. HEWAN YANG DIPERINTAHKAN AGAMA SUPAYA DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Aisyah berkata: Rasulullah bersabda: Lima hewan fasik yang hendaknya dibunuh, baik di tanah halal maupun haram yaitu ular, tikus, anjing hitam. ” (HR. Muslim no. 1198 dan Bukhari no. 1829 dengan lafadz “kalajengking: gantinya “ular” )&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam ibnu Hazm mengatakan dalam Al-Muhalla (6/73-74): “Setiap binatang yang diperintahkan oleh Rasulullah supaya dibunuh maka tidak ada sembelihan baginya, karena Rasulullah melarang dari menyia-nyiakan harta dan tidak halal membunuh binatang yang dimakan” (Lihat pula Al-Mughni (13/323) oleh Ibnu Qudamah dan Al-Majmu’ Syarh Muhadzab (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ummu Syarik berkata bahwa Nabi memerintahkan supaya membunuh tokek/cecak” (HR. Bukhari no. 3359 dan Muslim 2237). Imam Ibnu Abdil Barr berkata dalam At-Tamhid (6/129)” “Tokek/cecak telah disepakati keharaman memakannya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12. HEWAN YANG DILARANG UNTUK DIBUNUH&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dari Ibnu Abbas berkata: Rasulullah melarang membunuh 4 hewan : semut, tawon, burung hud-hud dan burung surad. ” (HR Ahmad (1/332,347), Abu Daud (5267), Ibnu Majah (3224), Ibnu Hibban (7/463) dan dishahihkan Baihaqi dan Ibnu Hajar dalam At-Talkhis 4/916). Imam Syafi’i dan para sahabatnya mengatakan: “Setiap hewan yang dilarang dibunuh berarti tidak boleh dimakan, karena seandainya boleh dimakan, tentu tidak akan dilarang membunuhnya.” (Lihat Al-Majmu’ (9/23) oleh Nawawi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya hewan-hewan di atas merupakan pendapat mayoritas ahli ilmu sekalipun ada perselisihan di dalamnya kecuali semut, nampaknya disepakati keharamannya. (Lihat Subul Salam 4/156, Nailul Authar 8/465-468, Faaidhul Qadir 6/414 oleh Al-Munawi). “Dari Abdur Rahman bin Utsman Al-Qurasyi bahwasanya seorang tabib pernah bertanya kepada Rasulullah tentang kodok/katak dijadikan obat, lalu Rasulullah melarang membunuhnya. (HR Ahmad (3/453), Abu Daud (5269), Nasa’i (4355), Al-Hakim (4/410-411), Baihaqi (9/258,318) dan dishahihkan Ibnu Hajar dan Al-Albani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haramnya katak secara mutlak merupakan pendapat Imam Ahmad dan beberapa ulama lainnya serta pendapat yang shahih dari madzab Syafe’i. Al-Abdari menukil dari Abu Bakar As-Shidiq, Umar, Utsman dan Ibnu Abbas bahwa seluruh bangkai laut hukumnya halal kecuali katak (lihat pula Al-Majmu’ (9/35) , Al-Mughni (13/345), Adhwaul Bayan (1/59) oleh Syaikh As-Syanqithi, Aunul Ma’bud (14/121) oleh Adzim Abadi dan Taudhihul Ahkam (6/26) oleh Al-Bassam)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13. BINATANG YANG HIDUP DI 2 (DUA) ALAM&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejauh ini BELUM ADA DALIL dari Al Qur’an dan hadits yang shahih yang menjelaskan tentang haramnya hewan yang hidup di dua alam (laut dan darat). Dengan demikian binatang yang hidup di dua alam dasar hukumnya “asal hukumnya adalah halal kecuali ada dalil yang mengharamkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut contoh beberapa dalil hewan hidup di dua alam :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KEPITING – hukumnya HALAL sebagaimana pendapat Atha’ dan Imam Ahmad.(Lihat Al-Mughni 13/344 oleh Ibnu Qudamah dan Al-Muhalla 6/84 oleh Ibnu Hazm).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KURA-KURA dan PENYU – juga HALAL sebagaimana madzab Abu Hurairah, Thawus, Muhammad bin Ali, Atha’, Hasan Al-Bashri dan fuqaha’ Madinah. (Lihat Al-Mushannaf (5/146) Ibnu Abi Syaibah dan Al-Muhalla (6/84).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ANJING LAUT – juga HALAL sebagaimana pendapat imam Malik, Syafe’i, Laits, Syai’bi dan Al-Auza’i (lihat Al-Mughni 13/346).&lt;br /&gt;KATAK/KODOK – hukumnya HARAM secara mutlak menurut pendapt yang rajih karena termasuk hewan yang dilarang dibunuh sebagaimana penjelasan di atas.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-5725424223985136284?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/5725424223985136284/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/04/mengenal-makanan-haram.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/5725424223985136284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/5725424223985136284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/04/mengenal-makanan-haram.html' title='Mengenal Makanan Haram'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-2216005358071603038</id><published>2010-03-02T02:56:00.000-08:00</published><updated>2010-03-02T02:56:08.257-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Nabi Muhammad</title><content type='html'>Sejarah Nabi Muhammad&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkawinan Abdullah dengan Aminah - Abdullah wafat -&lt;br /&gt;Muhammad lahir disusukan oleh Keluarga Sa'd - Kisah&lt;br /&gt;dua malaikat - Lima tahun selama tinggal di pedalaman&lt;br /&gt;- Aminah wafat - Di bawah asuhan Abd'l-Muttalib -&lt;br /&gt;Abd'l-Muttalib wafat - Di bawah asuhan Abu Talib -&lt;br /&gt;Pergi ke Suria dalam usia dua belas tahun- Perang&lt;br /&gt;Fijar - Menggembala kambing - Ke Suria membawa&lt;br /&gt;dagangan Khadijah - Perkawinannya dengan Khadijah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;USIA Abd'l-Muttalib sudah hampir mencapai tujuhpuluh tahun&lt;br /&gt;atau lebih tatkala Abraha mencoba menyerang Mekah dan&lt;br /&gt;menghancurkan Rumah Purba. Ketika itu umur Abdullah anaknya&lt;br /&gt;sudah duapuluh empat tahun, dan sudah tiba masanya dikawinkan.&lt;br /&gt;Pilihan Abd'l-Muttalib jatuh kepada Aminah bint Wahb bin Abd&lt;br /&gt;Manaf bin Zuhra, - pemimpin suku Zuhra ketika itu yang sesuai&lt;br /&gt;pula usianya dan mempunyai kedudukan terhormat. Maka pergilah&lt;br /&gt;anak-beranak itu hendak mengunjungi keluarga Zuhra. Ia dengan&lt;br /&gt;anaknya menemui Wahb dan melamar puterinya. Sebagian penulis&lt;br /&gt;sejarah berpendapat, bahwa ia pergi menemui Uhyab, paman&lt;br /&gt;Aminah, sebab waktu itu ayahnya sudah meninggal dan dia di&lt;br /&gt;bawah asuhan pamannya. Pada hari perkawinan Abdullah dengan&lt;br /&gt;Aminah itu, Abd'l-Muttalib juga kawin dengan Hala, puteri&lt;br /&gt;pamannya. Dari perkawinan ini lahirlah Hamzah, paman Nabi dan&lt;br /&gt;yang seusia dengan dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abdullah dengan Aminah tinggal selama tiga hari di rumah&lt;br /&gt;Aminah, sesuai dengan adat kebiasaan Arab bila perkawinan&lt;br /&gt;dilangsungkan di rumah keluarga pengantin puteri. Sesudah itu&lt;br /&gt;mereka pindah bersama-sama ke keluarga Abd'l-Muttalib. Tak&lt;br /&gt;seberapa lama kemudian Abdullahpun pergi dalam suatu usaha&lt;br /&gt;perdagangan ke Suria dengan meninggalkan isteri yang dalam&lt;br /&gt;keadaan hamil. Tentang ini masih terdapat beberapa keterangan&lt;br /&gt;yang berbeda-beda: adakah Abdullah kawin lagi selain dengan&lt;br /&gt;Aminah; adakah wanita lain yang datang menawarkan diri&lt;br /&gt;kepadanya? Rasanya tak ada gunanya menyelidiki&lt;br /&gt;keterangan-keterangan semacam ini. Yang pasti ialah Abdullah&lt;br /&gt;adalah seorang pemuda yang tegap dan tampan. Bukan hal yang&lt;br /&gt;luar biasa jika ada wanita lain yang ingin menjadi isterinya&lt;br /&gt;selain Aminah. Tetapi setelah perkawinannya dengan Aminah itu&lt;br /&gt;hilanglah harapan yang lain walaupun untuk sementara. Siapa&lt;br /&gt;tahu, barangkali mereka masih menunggu ia pulang dari&lt;br /&gt;perjalanannya ke Syam untuk menjadi isterinya di samping&lt;br /&gt;Aminah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanannya itu Abdullah tinggal selama beberapa&lt;br /&gt;bulan. Dalam pada itu ia pergi juga ke Gaza dan kembali lagi.&lt;br /&gt;Kemudian ia singgah ke tempat saudara-saudara ibunya di&lt;br /&gt;Medinah sekadar beristirahat sesudah merasa letih selama dalam&lt;br /&gt;perjalanan. Sesudah itu ia akan kembali pulang dengan kafilah&lt;br /&gt;ke Mekah. Akan tetapi kemudian ia menderita sakit di tempat&lt;br /&gt;saudara-saudara ibunya itu. Kawan-kawannyapun pulang lebih&lt;br /&gt;dulu meninggalkan dia. Dan merekalah yang menyampaikan berita&lt;br /&gt;sakitnya itu kepada ayahnya setelah mereka sampai di Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berita sampai kepada Abd'l-Muttalib ia mengutus Harith&lt;br /&gt;- anaknya yang sulung - ke Medinah, supaya membawa kembali&lt;br /&gt;bila ia sudah sembuh. Tetapi sesampainya di Medinah ia&lt;br /&gt;mengetahui bahwa Abdullah sudah meninggal dan sudah dikuburkan&lt;br /&gt;pula, sebulan sesudah kafilahnya berangkat ke Mekah.&lt;br /&gt;Kembalilah Harith kepada keluarganya dengan membawa perasaan&lt;br /&gt;pilu atas kematian adiknya itu. Rasa duka dan sedih menimpa&lt;br /&gt;hati Abd'l-Muttalib, menimpa hati Aminah, karena ia kehilangan&lt;br /&gt;seorang suami yang selama ini menjadi harapan kebahagiaan&lt;br /&gt;hidupnya. Demikian juga Abd'l-Muttalib sangat sayang kepadanya&lt;br /&gt;sehingga penebusannya terhadap Sang Berhala yang demikian rupa&lt;br /&gt;belum pernah terjadi di kalangan masyarakat Arab sebelum itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peninggalan Abdullah sesudah wafat terdiri dari lima ekor&lt;br /&gt;unta, sekelompok ternak kambing dan seorang budak perempuan,&lt;br /&gt;yaitu Umm Ayman - yang kemudian menjadi pengasuh Nabi. Boleh&lt;br /&gt;jadi peninggalan serupa itu bukan berarti suatu tanda&lt;br /&gt;kekayaan; tapi tidak juga merupakan suatu kemiskinan. Di&lt;br /&gt;samping itu umur Abdullah yang masih dalam usia muda belia,&lt;br /&gt;sudah mampu bekerja dan berusaha mencapai kekayaan. Dalam pada&lt;br /&gt;itu ia memang tidak mewarisi sesuatu dari ayahnya yang masih&lt;br /&gt;hidup itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminah sudah hamil, dan kemudian, seperti wanita lain iapun&lt;br /&gt;melahirkan. Selesai bersalin dikirimnya berita kepada Abd'l&lt;br /&gt;Muttalib di Ka'bah, bahwa ia melahirkan seorang anak&lt;br /&gt;laki-laki. Alangkah gembiranya orang tua itu setelah menerima&lt;br /&gt;berita. Sekaligus ia teringat kepada Abdullah anaknya. Gembira&lt;br /&gt;sekali hatinya karena ternyata pengganti anaknya sudah ada.&lt;br /&gt;Cepat-cepat ia menemui menantunya itu, diangkatnya bayi itu&lt;br /&gt;lalu dibawanya ke Ka'bah. Ia diberi nama Muhammad. Nama ini&lt;br /&gt;tidak umum di kalangan orang Arab tapi cukup dikenal. Kemudian&lt;br /&gt;dikembalikannya bayi itu kepada ibunya. Kini mereka sedang&lt;br /&gt;menantikan orang yang akan menyusukannya dari Keluarga Sa'd&lt;br /&gt;(Banu Sa'd), untuk kemudian menyerahkan anaknya itu kepada&lt;br /&gt;salah seorang dari mereka, sebagaimana sudah menjadi adat kaum&lt;br /&gt;bangsawan Arab di Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenai tahun ketika Muhammad dilahirkan, beberapa ahli&lt;br /&gt;berlainan pendapat. Sebagian besar mengatakan pada Tahun Gajah&lt;br /&gt;(570 Masehi). Ibn Abbas mengatakan ia dilahirkan pada Tahun&lt;br /&gt;Gajah itu. Yang lain berpendapat kelahirannya itu limabelas&lt;br /&gt;tahun sebelum peristiwa gajah. Selanjutnya ada yang mengatakan&lt;br /&gt;ia dilahirkan beberapa hari atau beberapa bulan atau juga&lt;br /&gt;beberapa tahun sesudah Tahun Gajah. Ada yang menaksir tiga&lt;br /&gt;puluh tahun, dan ada juga yang menaksir sampai tujuhpuluh&lt;br /&gt;tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga para ahli berlainan pendapat mengenai bulan kelahirannya.&lt;br /&gt;Sebagian besar mengatakan ia dilahirkan bulan Rabiul Awal. Ada&lt;br /&gt;yang berkata lahir dalam bulan Muharam, yang lain berpendapat&lt;br /&gt;dalam bulan Safar, sebagian lagi menyatakan dalam bulan Rajab,&lt;br /&gt;sementara yang lain mengatakan dalam bulan Ramadan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelainan pendapat itu juga mengenai hari bulan ia dilahirkan.&lt;br /&gt;Satu pendapat mengatakan pada malam kedua Rabiul Awal, atau&lt;br /&gt;malam kedelapan, atau kesembilan. Tetapi pada umumnya&lt;br /&gt;mengatakan, bahwa dia dilahirkan pada tanggal duabelas Rabiul&lt;br /&gt;Awal. Ini adalah pendapat Ibn Ishaq dan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya terdapat perbedaan pendapat mengenai waktu&lt;br /&gt;kelahirannya, yaitu siang atau malam, demikian juga mengenai&lt;br /&gt;tempat kelahirannya di Mekah. Caussin de Perceval dalam Essai&lt;br /&gt;sur l'Histoire des Arabes menyatakan, bahwa Muhammad&lt;br /&gt;dilahirkan bulan Agustus 570, yakni Tahun Gajah, dan bahwa dia&lt;br /&gt;dilahirkan di Mekah di rumah kakeknya Abd'l-Muttalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari ketujuh kelahirannya itu Abd'l-Muttalib minta&lt;br /&gt;disembelihkan unta. Hal ini kemudian dilakukan dengan&lt;br /&gt;mengundang makan masyarakat Quraisy. Setelah mereka mengetahui&lt;br /&gt;bahwa anak itu diberi nama Muhammad, mereka bertanya-tanya&lt;br /&gt;mengapa ia tidak suka memakai nama nenek moyang. "Kuinginkan&lt;br /&gt;dia akan menjadi orang yang Terpuji,1 bagi Tuhan di langit&lt;br /&gt;dan bagi makhlukNya di bumi," jawab Abd'l Muttalib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aminah masih menunggu akan menyerahkan anaknya itu kepada&lt;br /&gt;salah seorang Keluarga Sa'd yang akan menyusukan anaknya,&lt;br /&gt;sebagaimana sudah menjadi kebiasaan bangsawan-bangsawan Arab&lt;br /&gt;di Mekah. Adat demikian ini masih berlaku pada&lt;br /&gt;bangsawan-bangsawan Mekah. Pada hari kedelapan sesudah&lt;br /&gt;dilahirkan anak itupun dikirimkan ke pedalaman dan baru&lt;br /&gt;kembali pulang ke kota sesudah ia berumur delapan atau sepuluh&lt;br /&gt;tahun. Di kalangan kabilah-kabilah pedalaman yang terkenal&lt;br /&gt;dalam menyusukan ini di antaranya ialah kabilah Banu Sa'd.&lt;br /&gt;Sementara masih menunggu orang yang akan menyusukan itu Aminah&lt;br /&gt;menyerahkan anaknya kepada Thuwaiba, budak perempuan pamannya,&lt;br /&gt;Abu Lahab. Selama beberapa waktu ia disusukan, seperti Hamzah&lt;br /&gt;yang juga kemudian disusukannya. Jadi mereka adalah saudara&lt;br /&gt;susuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun Thuwaiba hanya beberapa hari saja menyusukan, namun&lt;br /&gt;ia tetap memelihara hubungan yang baik sekali selama hidupnya.&lt;br /&gt;Setelah wanita itu meninggal pada tahun ketujuh sesudah ia&lt;br /&gt;hijrah ke Medinah, untuk meneruskan hubungan baik itu ia&lt;br /&gt;menanyakan tentang anaknya yang juga menjadi saudara susuan.&lt;br /&gt;Tetapi kemudian ia mengetahui bahwa anak itu juga sudah&lt;br /&gt;meninggal sebelum ibunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya datang juga wanita-wanita Keluarga Sa'd yang akan&lt;br /&gt;menyusukan itu ke Mekah. Mereka memang mencari bayi yang akan&lt;br /&gt;mereka susukan. Akan tetapi mereka menghindari anak-anak&lt;br /&gt;yatim. Sebenarnya mereka masih mengharapkan sesuatu jasa dari&lt;br /&gt;sang ayah. Sedang dari anak-anak yatim sedikit sekali yang&lt;br /&gt;dapat mereka harapkan. Oleh karena itu di antara mereka itu&lt;br /&gt;tak ada yang mau mendatangi Muhammad. Mereka akan mendapat&lt;br /&gt;hasil yang lumayan bila mendatangi keluarga yang dapat mereka&lt;br /&gt;harapkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Halimah bint Abi-Dhua'ib yang pada mulanya menolak&lt;br /&gt;Muhammad, seperti yang lain-lain juga, ternyata tidak mendapat&lt;br /&gt;bayi lain sebagai gantinya. Di samping itu karena dia memang&lt;br /&gt;seorang wanita yang kurang mampu, ibu-ibu lainpun tidak&lt;br /&gt;menghiraukannya. Setelah sepakat mereka akan meninggalkan&lt;br /&gt;Mekah. Halimah berkata kepada Harith bin Abd'l-'Uzza suaminya:&lt;br /&gt;"Tidak senang aku pulang bersama dengan teman-temanku tanpa&lt;br /&gt;membawa seorang bayi. Biarlah aku pergi kepada anak yatim itu&lt;br /&gt;dan akan kubawa juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Baiklah," jawab suaminya. "Mudah-mudahan karena itu Tuhan&lt;br /&gt;akan memberi berkah kepada kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halimah kemudian mengambil Muhammad dan dibawanya pergi&lt;br /&gt;bersama-sama dengan teman-temannya ke pedalaman. Dia&lt;br /&gt;bercerita, bahwa sejak diambilnya anak itu ia merasa mendapat&lt;br /&gt;berkah. Ternak kambingnya gemuk-gemuk dan susunyapun&lt;br /&gt;bertambah. Tuhan telah memberkati semua yang ada padanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama dua tahun Muhammad tinggal di sahara, disusukan oleh&lt;br /&gt;Halimah dan diasuh oleh Syaima', puterinya. Udara sahara dan&lt;br /&gt;kehidupan pedalaman yang kasar menyebabkannya cepat sekali&lt;br /&gt;menjadi besar, dan menambah indah bentuk dan pertumbuhan&lt;br /&gt;badannya. Setelah cukup dua tahun dan tiba masanya disapih,&lt;br /&gt;Halimah membawa anak itu kepada ibunya dan sesudah itu&lt;br /&gt;membawanya kembali ke pedalaman. Hal ini dilakukan karena&lt;br /&gt;kehendak ibunya, kata sebuah keterangan, dan keterangan lain&lt;br /&gt;mengatakan karena kehendak Halimah sendiri. Ia dibawa kembali&lt;br /&gt;supaya lebih matang, juga memang dikuatirkan dari adanya&lt;br /&gt;serangan wabah Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun lagi anak itu tinggal di sahara, menikmati udara&lt;br /&gt;pedalaman yang jernih dan bebas, tidak terikat oleh sesuatu&lt;br /&gt;ikatan jiwa, juga tidak oleh ikatan materi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada masa itu, sebelum usianya mencapai tiga tahun, ketika&lt;br /&gt;itulah terjadi cerita yang banyak dikisahkan orang. Yakni,&lt;br /&gt;bahwa sementara ia dengan saudaranya yang sebaya sesama&lt;br /&gt;anak-anak itu sedang berada di belakang rumah di luar&lt;br /&gt;pengawasan keluarganya, tiba-tiba anak yang dari Keluarga Sa'd&lt;br /&gt;itu kembali pulang sambil berlari, dan berkata kepada&lt;br /&gt;ibu-bapanya: "Saudaraku yang dari Quraisy itu telah diambil&lt;br /&gt;oleh dua orang laki-laki berbaju putih. Dia dibaringkan,&lt;br /&gt;perutnya dibedah, sambil di balik-balikan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tentang Halimah ini ada juga diceritakan, bahwa mengenai&lt;br /&gt;diri dan suaminya ia berkata: "Lalu saya pergi dengan ayahnya&lt;br /&gt;ke tempat itu. Kami jumpai dia sedang berdiri. Mukanya&lt;br /&gt;pucat-pasi. Kuperhatikan dia. demikian juga ayahnya. Lalu kami&lt;br /&gt;tanyakan: "Kenapa kau, nak?" Dia menjawab: "Aku didatangi oleh&lt;br /&gt;dua orang laki-laki berpakaian putih. Aku di baringkan, lalu&lt;br /&gt;perutku di bedah. Mereka mencari sesuatu di dalamnya. Tak tahu&lt;br /&gt;aku apa yang mereka cari."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Halimah dan suaminya kembali pulang ke rumah. Orang itu sangat&lt;br /&gt;ketakutan, kalau-kalau anak itu sudah kesurupan. Sesudah itu,&lt;br /&gt;dibawanya anak itu kembali kepada ibunya di Mekah. Atas&lt;br /&gt;peristiwa ini Ibn Ishaq membawa sebuah Hadis Nabi sesudah&lt;br /&gt;kenabiannya. Tetapi dalam menceritakan peristiwa ini Ibn Ishaq&lt;br /&gt;nampaknya hati-hati sekali dan mengatakan bahwa sebab&lt;br /&gt;dikembalikannya kepada ibunya bukan karena cerita adanya dua&lt;br /&gt;malaikat itu, melainkan - seperti cerita Halimah kepada Aminah&lt;br /&gt;- ketika ia di bawa pulang oleh Halimah sesudah disapih, ada&lt;br /&gt;beberapa orang Nasrani Abisinia memperhatikan Muhammad dan&lt;br /&gt;menanyakan kepada Halimah tentang anak itu. Dilihatnya&lt;br /&gt;belakang anak itu, lalu mereka berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarlah kami bawa anak ini kepada raja kami di negeri kami.&lt;br /&gt;Anak ini akan menjadi orang penting. Kamilah yang mengetahui&lt;br /&gt;keadaannya." Halimah lalu cepat-cepat menghindarkan diri dari&lt;br /&gt;mereka dengan membawa anak itu. Demikian juga cerita yang&lt;br /&gt;dibawa oleh Tabari, tapi ini masih di ragukan; sebab dia&lt;br /&gt;menyebutkan Muhammad dalam usianya itu, lalu kembali&lt;br /&gt;menyebutkan bahwa hal itu terjadi tidak lama sebelum&lt;br /&gt;kenabiannya dan usianya empatpuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baik kaum Orientalis maupun beberapa kalangan kaum Muslimin&lt;br /&gt;sendiri tidak merasa puas dengan cerita dua malaikat ini dan&lt;br /&gt;menganggap sumber itu lemah sekali. Yang melihat kedua&lt;br /&gt;laki-laki (malaikat) dalam cerita penulis-penulis sejarah itu&lt;br /&gt;hanya anak-anak yang baru dua tahun lebih sedikit umurnya.&lt;br /&gt;Begitu juga umur Muhammad waktu itu. Akan tetapi sumber-sumber&lt;br /&gt;itu sependapat bahwa Muhammad tinggal di tengah-tengah&lt;br /&gt;Keluarga Sa'd itu sampai mencapai usia lima tahun. Andaikata&lt;br /&gt;peristiwa itu terjadi ketika ia berusia dua setengah tahun,&lt;br /&gt;dan ketika itu Halimah dan suaminya mengembalikannya kepada&lt;br /&gt;ibunya, tentulah terdapat kontradiksi dalam dua sumber cerita&lt;br /&gt;itu yang tak dapat diterima. Oleh karena itu beberapa penulis&lt;br /&gt;berpendapat, bahwa ia kembali dengan Halimah itu untuk ketiga&lt;br /&gt;kalinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hal ini Sir William Muir tidak mau menyebutkan cerita&lt;br /&gt;tentang dua orang berbaju putih itu, dan hanya menyebutkan,&lt;br /&gt;bahwa kalau Halimah dan suaminya sudah menyadari adanya suatu&lt;br /&gt;gangguan kepada anak itu, maka mungkin saja itu adalah suatu&lt;br /&gt;gangguan krisis urat-saraf, dan kalau hal itu tidak sampai&lt;br /&gt;mengganggu kesehatannya ialah karena bentuk tubuhnya yang&lt;br /&gt;baik. Barangkali yang lainpun akan berkata: Baginya tidak&lt;br /&gt;diperlukan lagi akan ada yang harus membelah perut atau&lt;br /&gt;dadanya, sebab sejak dilahirkan Tuhan sudah mempersiapkannya&lt;br /&gt;supaya menjalankan risalahNya. Dermenghem berpendapat, bahwa&lt;br /&gt;cerita ini tidak mempunyai dasar kecuali dari yang diketahui&lt;br /&gt;orang dari teks ayat yang berbunyi: "Bukankah sudah Kami&lt;br /&gt;lapangkan dadamu? Dan sudah Kami lepaskan beban dari kau? Yang&lt;br /&gt;telah memberati punggungmu?" (Qur'an 94: 1-3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang telah diisyaratkan Qur'an itu adalah dalam arti&lt;br /&gt;rohani semata, yang maksudnya ialah membersihkan (menyucikan)&lt;br /&gt;dan mencuci hati yang akan menerima Risalah Kudus, kemudian&lt;br /&gt;meneruskannya seikhlas-ikhlasnya, dengan menanggung segala&lt;br /&gt;beban karena Risalah yang berat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian apa yang diminta oleh kaum Orientalis dan&lt;br /&gt;pemikir-pemikir Muslim dalam hal ini ialah bahwa peri hidup&lt;br /&gt;Muhammad adalah sifatnya manusia semata-mata dan bersifat peri&lt;br /&gt;kemanusiaan yang luhur. Dan untuk memperkuat kenabiannya itu&lt;br /&gt;memang tidak perlu ia harus bersandar kepada apa yang biasa&lt;br /&gt;dilakukan oleh mereka yang suka kepada yang ajaib-ajaib.&lt;br /&gt;Dengan demikian mereka beralasan sekali menolak tanggapan&lt;br /&gt;penulis-penulis Arab dan kaum Muslimin tentang peri hidup Nabi&lt;br /&gt;yang tidak masuk akal itu. Mereka berpendapat bahwa apa yang&lt;br /&gt;dikemukakan itu tidak sejalan dengan apa yang diminta oleh&lt;br /&gt;Qur'an supaya merenungkan ciptaan Tuhan, dan bahwa&lt;br /&gt;undang-undang Tuhan takkan ada yang berubah-ubah. Tidak sesuai&lt;br /&gt;dengan ekspresi Qur'an tentang kaum Musyrik yang tidak mau&lt;br /&gt;mendalami dan tidak mau mengerti juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad tinggal pada Keluarga Sa'd sampai mencapai usia lima&lt;br /&gt;tahun, menghirup jiwa kebebasan dan kemerdekaan dalam udara&lt;br /&gt;sahara yang lepas itu. Dari kabilah ini ia belajar&lt;br /&gt;mempergunakan bahasa Arab yang murni, sehingga pernah ia&lt;br /&gt;mengatakan kepada teman-temannya kemudian: "Aku yang paling&lt;br /&gt;fasih di antara kamu sekalian. Aku dari Quraisy tapi diasuh di&lt;br /&gt;tengah-tengah Keluarga Sa'd bin Bakr."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lima tahun masa yang ditempuhnya itu telah memberikan kenangan&lt;br /&gt;yang indah sekali dan kekal dalam jiwanya. Demikian juga Ibu&lt;br /&gt;Halimah dan keluarganya tempat dia menumpahkan rasa kasih&lt;br /&gt;sayang dan hormat selama hidupnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penduduk daerah itu pernah mengalami suatu masa paceklik&lt;br /&gt;sesudah perkawinan Muhammad dengan Khadijah. Bilamana Halimah&lt;br /&gt;kemudian mengunjunginya, sepulangnya ia dibekali dengan harta&lt;br /&gt;Khadijah berupa unta yang dimuati air dan empat puluh ekor&lt;br /&gt;kambing. Dan setiap dia datang dibentangkannya pakaiannya yang&lt;br /&gt;paling berharga untuk tempat duduk Ibu Halimah sebagai tanda&lt;br /&gt;penghormatan. Ketika Syaima, puterinya berada di bawah tawanan&lt;br /&gt;bersama-sama pihak Hawazin setelah Ta'if dikepung, kemudian&lt;br /&gt;dibawa kepada Muhammad, ia segera mengenalnya. Ia dihormati&lt;br /&gt;dan dikembalikan kepada keluarganya sesuai dengan keinginan&lt;br /&gt;wanita itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah lima tahun, kemudian Muhammad kembali kepada ibunya.&lt;br /&gt;Dikatakan juga, bahwa Halimah pernah mencari tatkala ia sedang&lt;br /&gt;membawanya pulang ketempat keluarganya tapi tidak&lt;br /&gt;menjumpainya. Ia mendatangi Abd'l-Muttalib dan memberitahukan&lt;br /&gt;bahwa Muhammad telah sesat jalan ketika berada di hulu kota&lt;br /&gt;Mekah. Lalu Abd'l-Muttalibpun menyuruh orang mencarinya, yang&lt;br /&gt;akhirnya dikembalikan oleh Waraqa bin Naufal, demikian&lt;br /&gt;setengah orang berkata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Abd'l-Muttalib yang bertindak mengasuh cucunya itu.&lt;br /&gt;Ia memeliharanya sungguh-sungguh dan mencurahkan segala&lt;br /&gt;kasih-sayangnya kepada cucu ini. Biasanya buat orang tua itu -&lt;br /&gt;pemimpin seluruh Quraisy dan pemimpin Mekah - diletakkannya&lt;br /&gt;hamparan tempat dia duduk di bawah naungan Ka'bah, dan&lt;br /&gt;anak-anaknya lalu duduk pula sekeliling hamparan itu sebagai&lt;br /&gt;penghormatan kepada orang tua. Tetapi apabila Muhammad yang&lt;br /&gt;datang maka didudukkannya ia di sampingnya diatas hamparan itu&lt;br /&gt;sambil ia mengelus-ngelus punggungnya. Melihat betapa besarnya&lt;br /&gt;rasa cintanya itu paman-paman Muhammad tidak mau membiarkannya&lt;br /&gt;di belakang dari tempat mereka duduk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih lagi kecintaan kakek itu kepada cucunya ketika&lt;br /&gt;Aminah kemudian membawa anaknya itu ke Medinah untuk&lt;br /&gt;diperkenalkan kepada saudara-saudara kakeknya dari pihak&lt;br /&gt;Keluarga Najjar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itu dibawanya juga Umm Aiman, budak perempuan&lt;br /&gt;yang ditinggalkan ayahnya dulu. Sesampai mereka di Medinah&lt;br /&gt;kepada anak itu diperlihatkan rumah tempat ayahnya meninggal&lt;br /&gt;dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama kali&lt;br /&gt;ia merasakan sebagai anak yatim. Dan barangkali juga ibunya&lt;br /&gt;pernah menceritakan dengan panjang lebar tentang ayah tercinta&lt;br /&gt;itu, yang setelah beberapa waktu tinggal bersama-sama,&lt;br /&gt;kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamannya dari pihak&lt;br /&gt;ibu. Sesudah Hijrah pernah juga Nabi menceritakan kepada&lt;br /&gt;sahabat-sahabatnya kisah perjalanannya yang pertama ke Medinah&lt;br /&gt;dengan ibunya itu. Kisah yang penuh cinta pada Medinah, kisah&lt;br /&gt;yang penuh duka pada orang yang ditinggalkan keluarganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah cukup sebulan mereka tinggal di Medinah, Aminah sudah&lt;br /&gt;bersiap-siap akan pulang. Ia dan rombongan kembali pulang&lt;br /&gt;dengan dua ekor unta yang membawa mereka dari Mekah. Tetapi di&lt;br /&gt;tengah perjalanan, ketika mereka sampai di Abwa',2 ibunda&lt;br /&gt;Aminah menderita sakit, yang kemudian meninggal dan dikuburkan&lt;br /&gt;pula di tempat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu oleh Umm Aiman dibawa pulang ke Mekah, pulang&lt;br /&gt;menangis dengan hati yang pilu, sebatang kara. Ia makin merasa&lt;br /&gt;kehilangan; sudah ditakdirkan menjadi anak yatim. Terasa&lt;br /&gt;olehnya hidup yang makin sunyi, makin sedih. Baru beberapa&lt;br /&gt;hari yang lalu ia mendengar dari Ibunda keluhan duka&lt;br /&gt;kehilangan Ayahanda semasa ia masih dalam kandungan. Kini ia&lt;br /&gt;melihat sendiri dihadapannya, ibu pergi untuk tidak kembali&lt;br /&gt;lagi, seperti ayah dulu. Tubuh yang masih kecil itu kini&lt;br /&gt;dibiarkan memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih-lebih lagi kecintaan Abd'l-Muttalib kepadanya. Tetapi&lt;br /&gt;sungguhpun begitu, kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu&lt;br /&gt;bekasnya masih mendalam sekali dalam jiwanya sehingga di dalam&lt;br /&gt;Qur'anpun disebutkan, ketika Allah mengingatkan Nabi akan&lt;br /&gt;nikmat yang dianugerahkan kepadanya itu: "Bukankah engkau&lt;br /&gt;dalam keadaan yatim-piatu? Lalu diadakanNya orang yang akan&lt;br /&gt;melindungimu? Dan menemukan kau kehilangan pedoman, lalu&lt;br /&gt;ditunjukkanNya jalan itu?" (Qur'an, 93: 6-7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenangan yang memilukan hati ini barangkali akan terasa agak&lt;br /&gt;meringankan juga sedikit, sekiranya Abd'l-Muttalib masih dapat&lt;br /&gt;hidup lebih lama lagi. Tetapi orang tua itu juga meninggal,&lt;br /&gt;dalam usia delapanpuluh tahun, sedang Muhammad waktu itu baru&lt;br /&gt;berumur delapan tahun. Sekali lagi Muhammad dirundung&lt;br /&gt;kesedihan karena kematian kakeknya itu, seperti yang sudah&lt;br /&gt;dialaminya ketika ibunya meninggal. Begitu sedihnya dia,&lt;br /&gt;sehingga selalu ia menangis sambil mengantarkan keranda&lt;br /&gt;jenazah sampai ketempat peraduan terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan sesudah itupun ia masih tetap mengenangkannya sekalipun&lt;br /&gt;sesudah itu, di bawah asuhan Abu Talib pamannya ia mendapat&lt;br /&gt;perhatian dan pemeliharaan yang baik sekali, mendapat&lt;br /&gt;perlindungan sampai masa kenabiannya, yang terus demikian&lt;br /&gt;sampai pamannya itupun achirnya meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kematian Abd'l-Muttalib ini merupakan pukulan berat&lt;br /&gt;bagi Keluarga Hasyim semua. Di antara anak-anaknya itu tak ada&lt;br /&gt;yang seperti dia: mempunyai keteguhan hati, kewibawaan,&lt;br /&gt;pandangan yang tajam, terhormat dan berpengaruh di kalangan&lt;br /&gt;Arab semua. Dia menyediakan makanan dan minuman bagi mereka&lt;br /&gt;yang datang berziarah, memberikan bantuan kepada penduduk&lt;br /&gt;Mekah bila mereka mendapat bencana. Sekarang ternyata tak ada&lt;br /&gt;lagi dari anak-anaknya itu yang akan dapat meneruskan. Yang&lt;br /&gt;dalam keadaan miskin, tidak mampu melakukan itu, sedang yang&lt;br /&gt;kaya hidupnya kikir sekali. Oleh karena itu maka Keluarga&lt;br /&gt;Umaya yang lalu tampil ke depan akan mengambil tampuk pimpinan&lt;br /&gt;yang memang sejak dulu diinginkan itu, tanpa menghiraukan&lt;br /&gt;ancaman yang datang dari pihak Keluarga Hasyim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengasuhan Muhammad di pegang oleh Abu Talib, sekalipun dia&lt;br /&gt;bukan yang tertua di antara saudara-saudaranya. Saudara tertua&lt;br /&gt;adalah Harith, tapi dia tidak seberapa mampu. Sebaliknya Abbas&lt;br /&gt;yang mampu, tapi dia kikir sekali dengan hartanya. Oleh karena&lt;br /&gt;itu ia hanya memegang urusan siqaya (pengairan) tanpa mengurus&lt;br /&gt;rifada (makanan). Sekalipun dalam kemiskinannya itu, tapi Abu&lt;br /&gt;Talib mempunyai perasaan paling halus dan terhormat di&lt;br /&gt;kalangan Quraisy. Dan tidak pula mengherankan kalau&lt;br /&gt;Abd'l-Muttalib menyerahkan asuhan Muhammad kemudian kepada Abu&lt;br /&gt;Talib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Talib mencintai kemenakannya itu sama seperti&lt;br /&gt;Abd'l-Muttalib juga. Karena kecintaannya itu ia mendahulukan&lt;br /&gt;kemenakan daripada anak-anaknya sendiri. Budi pekerti Muhammad&lt;br /&gt;yang luhur, cerdas, suka berbakti dan baik hati, itulah yang&lt;br /&gt;lebih menarik hati pamannya. Pernah pada suatu ketika ia akan&lt;br /&gt;pergi ke Syam membawa dagangan - ketika itu usia Muhammad baru&lt;br /&gt;duabelas tahun - mengingat sulitnya perjalanan menyeberangi&lt;br /&gt;padang pasir, tak terpikirkan olehnya akan membawa Muhammad.&lt;br /&gt;Akan tetapi Muhammad yang dengan ikhlas menyatakan akan&lt;br /&gt;menemani pamannya itu, itu juga yang menghilangkan sikap&lt;br /&gt;ragu-ragu dalam hati Abu Talib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak itu lalu turut serta dalam rombongan kafilah, hingga&lt;br /&gt;sampai di Bushra di sebelah selatan Syam. Dalam buku-buku&lt;br /&gt;riwayat hidup Muhammad diceritakan, bahwa dalam perjalanan&lt;br /&gt;inilah ia bertemu dengan rahib Bahira, dan bahwa rahib itu&lt;br /&gt;telah melihat tanda-tanda kenabian padanya sesuai dengan&lt;br /&gt;petunjuk cerita-cerita Kristen. Sebagian sumber menceritakan,&lt;br /&gt;bahwa rahib itu menasehatkan keluarganya supaya jangan&lt;br /&gt;terlampau dalam memasuki daerah Syam, sebab dikuatirkan&lt;br /&gt;orang-orang Yahudi yang mengetahui tanda-tanda itu akan&lt;br /&gt;berbuat jahat terhadap dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan itulah sepasang mata Muhammad yang indah itu&lt;br /&gt;melihat luasnya padang pasir, menatap bintang-bintang yang&lt;br /&gt;berkilauan di langit yang jernih cemerlang. Dilaluinya&lt;br /&gt;daerah-daerah Madyan, Wadit'l-Qura serta peninggalan&lt;br /&gt;bangunan-bangunan Thamud. Didengarnya dengan telinganya yang&lt;br /&gt;tajam segala cerita orang-orang Arab dan penduduk pedalaman&lt;br /&gt;tentang bangunan-bangunan itu, tentang sejarahnya masa lampau.&lt;br /&gt;Dalam perjalanan ke daerah Syam ini ia berhenti di kebun-kebun&lt;br /&gt;yang lebat dengan buab-buahan yang sudah masak, yang akan&lt;br /&gt;membuat ia lupa akan kebun-kebun di Ta'if serta segala cerita&lt;br /&gt;orang tentang itu. Taman-taman yang dilihatnya dibandingkannya&lt;br /&gt;dengan dataran pasir yang gersang dan gunung-gunung tandus di&lt;br /&gt;sekeliling Mekah itu. Di Syam ini juga Muhammad mengetahui&lt;br /&gt;berita-berita tentang Kerajaan Rumawi dan agama Kristennya,&lt;br /&gt;didengarnya berita tentang Kitab Suci mereka serta oposisi&lt;br /&gt;Persia dari penyembah api terhadap mereka dan persiapannya&lt;br /&gt;menghadapi perang dengan Persia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah&lt;br /&gt;mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman&lt;br /&gt;otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam dan ingatan&lt;br /&gt;yang cukup kuat serta segala sifat-sifat semacam itu yang&lt;br /&gt;diberikan alam kepadanya sebagai suatu persiapan akan menerima&lt;br /&gt;risalah (misi) maha besar yang sedang menantinya. Ia melihat&lt;br /&gt;ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak&lt;br /&gt;puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya&lt;br /&gt;kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya Abu Talib tidak banyak membawa harta dari&lt;br /&gt;perjalanannya itu. Ia tidak lagi mengadakan perjalanan&lt;br /&gt;demikian. Malah sudah merasa cukup dengan yang sudah&lt;br /&gt;diperolehnya itu. Ia menetap di Mekah mengasuh anak-anaknya&lt;br /&gt;yang banyak sekalipun dengan harta yang tidak seberapa.&lt;br /&gt;Muhammad juga tinggal dengan pamannya, menerima apa yang ada.&lt;br /&gt;Ia melakukan pekerjaan yang biasa dikerjakan oleh mereka yang&lt;br /&gt;seusia dia. Bila tiba bulan-bulan suci, kadang ia tinggal di&lt;br /&gt;Mekah dengan keluarga, kadang pergi bersama mereka ke&lt;br /&gt;pekan-pekan yang berdekatan dengan 'Ukaz, Majanna dan&lt;br /&gt;Dhu'l-Majaz, mendengarkan sajak-sajak yang dibawakan oleh&lt;br /&gt;penyair-penyair Mudhahhabat dan Mu'allaqat.3 Pendengarannya&lt;br /&gt;terpesona oleh sajak-sajak yang fasih melukiskan lagu cinta&lt;br /&gt;dan puisi-puisi kebanggaan, melukiskan nenek moyang mereka,&lt;br /&gt;peperangan mereka, kemurahan hati dan jasa-jasa mereka.&lt;br /&gt;Didengarnya ahli-ahli pidato di antaranya orang-orang Yahudi&lt;br /&gt;dan Nasrani yang membenci paganisma Arab. Mereka bicara&lt;br /&gt;tentang Kitab-kitab Suci Isa dan Musa, dan mengajak kepada&lt;br /&gt;kebenaran menurut keyakinan mereka. Dinilainya semua itu&lt;br /&gt;dengan hati nuraninya, dilihatnya ini lebih baik daripada&lt;br /&gt;paganisma yang telah menghanyutkan keluarganya itu. Tetapi&lt;br /&gt;tidak sepenuhnya ia merasa lega.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian sejak muda-belia takdir telah mengantarkannya&lt;br /&gt;ke jurusan yang akan membawanya ke suatu saat bersejarah, saat&lt;br /&gt;mula pertama datangnya wahyu, tatkala Tuhan memerintahkan ia&lt;br /&gt;menyampaikan risalahNya itu. Yakni risalah kebenaran dan&lt;br /&gt;petunjuk bagi seluruh umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau Muhammad sudah mengenal seluk-beluk jalan padang pasir&lt;br /&gt;dengan pamannya Abu Talib, sudah mendengar para penyair,&lt;br /&gt;ahli-ahli pidato membacakan sajak-sajak dan pidato-pidato&lt;br /&gt;dengan keluarganya dulu di pekan sekitar Mekah selama&lt;br /&gt;bulan-bulan suci, maka ia juga telah mengenal arti memanggul&lt;br /&gt;senjata, ketika ia mendampingi paman-pamannya dalam Perang&lt;br /&gt;Fijar. Dan Perang Fijar itulah di antaranya yang telah&lt;br /&gt;menimbulkan dan ada sangkut-pautnya dengan peperangan di&lt;br /&gt;kalangan kabilah-kabilah Arab. Dinamakan al-fijar4 ini karena&lt;br /&gt;ia terjadi dalam bulan-bulan suci, pada waktu kabilah-kabilah&lt;br /&gt;seharusnya tidak boleh berperang. Pada waktu itulah&lt;br /&gt;pekan-pekan dagang diadakan di 'Ukaz, yang terletak antara&lt;br /&gt;Ta'if dengan Nakhla dan antara Majanna dengan Dhu'l-Majaz,&lt;br /&gt;tidak jauh dari 'Arafat. Mereka di sana saling tukar menukar&lt;br /&gt;perdagangan, berlumba dan berdiskusi, sesudah itu kemudian&lt;br /&gt;berziarah ke tempat berhala-berhala mereka di Ka'bah. Pekan&lt;br /&gt;'Ukaz adalah pekan yang paling terkenal di antara pekan-pekan&lt;br /&gt;Arab lainnya. Di tempat itu penyair-penyair terkemuka&lt;br /&gt;membacakan sajak-sajaknya yang terbaik, di tempat itu Quss&lt;br /&gt;(bin Sa'ida) berpidato dan di tempat itu pula orang-orang&lt;br /&gt;Yahudi, Nasrani dan penyembah-penyembah berhala masing-masing&lt;br /&gt;mengemukakan pandangan dengan bebas, sebab bulan itu bulan&lt;br /&gt;suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Barradz bin Qais dari kabilah Kinana tidak lagi&lt;br /&gt;menghormati bulan suci itu dengan mengambil kesempatan&lt;br /&gt;membunuh 'Urwa ar-Rahhal bin 'Utba dari kabilah Hawazin.&lt;br /&gt;Kejadian ini disebabkan oleh karena Nu'man bin'l-Mundhir&lt;br /&gt;setiap tahun mengirimkan sebuah kafilah dari Hira ke 'Ukaz&lt;br /&gt;membawa muskus, dan sebagai gantinya akan kembali dengan&lt;br /&gt;membawa kulit hewan, tali, kain tenun sulam Yaman. Tiba-tiba&lt;br /&gt;Barradz tampil sendiri dan membawa kafilah itu ke bawah&lt;br /&gt;pengawasan kabilah Kinana. Demikian juga 'Urwa lalu tampil&lt;br /&gt;pula sendiri dengan melintasi jalan Najd menuju Hijaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun pilihan Nu'man terhadap 'Urwa (Hawazin) ini telah&lt;br /&gt;menimbulkan kejengkelan Barradz (Kinana), yang kemudian&lt;br /&gt;mengikutinya dari belakang, lalu membunuhnya dan mengambil&lt;br /&gt;kabilah itu. Sesudah itu kemudian Barradz memberitahukan&lt;br /&gt;kepada Basyar bin Abi Hazim, bahwa pihak Hawazin akan menuntut&lt;br /&gt;balas kepada Quraisy. Fihak Hawazin segera menyusul Quraisy&lt;br /&gt;sebelum masuknya bulan suci. Maka terjadilah perang antara&lt;br /&gt;mereka itu. Pihak Quraisy mundur dan menggabungkan diri dengan&lt;br /&gt;pihak yang menang di Mekah. Pihak Hawazin memberi peringatan&lt;br /&gt;bahwa tahun depan perang akan diadakan di 'Ukaz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang demikian ini berlangsung antara kedua belah pihak&lt;br /&gt;selama empat tahun terus-menerus dan berakhir dengan suatu&lt;br /&gt;perdamaian model pedalaman, yaitu yang menderita korban&lt;br /&gt;manusia lebih kecil harus membayar ganti sebanyak jumlah&lt;br /&gt;kelebihan korban itu kepada pihak lain. Maka dengan demikian&lt;br /&gt;Quraisy telah membayar kompensasi sebanyak duapuluh orang&lt;br /&gt;Hawazin. Nama Barradz ini kemudian menjadi peribahasa yang&lt;br /&gt;menggambarkan kemalangan. Sejarah tidak memberikan kepastian&lt;br /&gt;mengenai umur Muhammad pada waktu Perang Fijar itu terjadi.&lt;br /&gt;Ada yang mengatakan umurnya limabelas tahun, ada juga yang&lt;br /&gt;mengatakan duapuluh tahun. Mungkin sebab perbedaan ini karena&lt;br /&gt;perang tersebut berlangsung selama empat tahun. Pada tahun&lt;br /&gt;permulaan ia berumur limabelas tahun dan pada tahun&lt;br /&gt;berakhirnya perang itu ia sudah memasuki umur duapuluh tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga orang berselisih pendapat mengenai tugas yang dipegang&lt;br /&gt;Muhammad dalam perang itu. Ada yang mengatakan tugasnya&lt;br /&gt;mengumpulkan anak-anak panah yang datang dari pihak Hawazin&lt;br /&gt;lalu di berikan kepada paman-pamannya untuk dibalikkan kembali&lt;br /&gt;kepada pihak lawan. Yang lain lagi berpendapat, bahwa dia&lt;br /&gt;sendiri yang ikut melemparkan panah. Tetapi, selama peperangan&lt;br /&gt;tersebut telah berlangsung sampai empat tahun, maka kebenaran&lt;br /&gt;kedua pendapat itu dapat saja diterima. Mungkin pada mulanya&lt;br /&gt;ia mengumpulkan anak-anak panah itu untuk pamannya dan&lt;br /&gt;kemudian dia sendiripun ikut melemparkan. Beberapa tahun&lt;br /&gt;sesudah kenabiannya Rasulullah menyebutkan tentang Perang&lt;br /&gt;Fijar itu dengan berkata: "Aku mengikutinya bersama dengan&lt;br /&gt;paman-pamanku, juga ikut melemparkan panah dalam perang itu;&lt;br /&gt;sebab aku tidak suka kalau tidak juga aku ikut melaksanakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah Perang Fijar Quraisy merasakan sekali bencana yang&lt;br /&gt;menimpa mereka dan menimpa Mekah seluruhnya, yang disebabkan&lt;br /&gt;oleh perpecahan, sesudah Hasyim dan 'Abd'l-Muttalib wafat, dan&lt;br /&gt;masing-masing pihak berkeras mau jadi yang berkuasa. Kalau&lt;br /&gt;tadinya orang-orang Arab itu menjauhi, sekarang mereka berebut&lt;br /&gt;mau berkuasa. Atas anjuran Zubair bin 'Abd'l-Muttalib di rumah&lt;br /&gt;Abdullah bin Jud'an diadakan pertemuan dengan mengadakan&lt;br /&gt;jamuan makan, dihadiri oleh keluarga-keluarga Hasyim, Zuhra&lt;br /&gt;dan Taym. Mereka sepakat dan berjanji atas nama Tuhan Maha&lt;br /&gt;Pembalas, bahwa Tuhan akan berada di pihak yang teraniaya&lt;br /&gt;sampai orang itu tertolong. Muhammad menghadiri pertemuan itu&lt;br /&gt;yang oleh mereka disebut Hilf'l-Fudzul. Ia mengatakan, "Aku&lt;br /&gt;tidak suka mengganti fakta yang kuhadiri di rumah Ibn Jud'an&lt;br /&gt;itu dengan jenis unta yang baik. Kalau sekarang aku diajak&lt;br /&gt;pasti kukabulkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kita lihat, Perang Fijar itu berlangsung hanya&lt;br /&gt;beberapa hari saja tiap tahun. Sedang selebihnya masyarakat&lt;br /&gt;Arab kembali ke pekerjaannya masing-masing. Pahit-getirnya&lt;br /&gt;peperangan yang tergores dalam hati mereka tidak akan&lt;br /&gt;menghalangi mereka dari kegiatan perdagangan, menjalankan&lt;br /&gt;riba, minum minuman keras serta pelbagai macam kesenangan dan&lt;br /&gt;hiburan sepuas-puasnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah juga Muhammad ikut serta dengan mereka dalam hal ini?&lt;br /&gt;Ataukah sebaliknya perasaannya yang halus, kemampuannya yang&lt;br /&gt;terbatas serta asuhan pamannya membuatnya jadi menjauhi semua&lt;br /&gt;itu, dan melihat segala kemewahan dengan mata bernafsu tapi&lt;br /&gt;tidak mampu? Bahwasanya dia telah menjauhi semua itu, sejarah&lt;br /&gt;cukup menjadi saksi. Yang terang ia menjauhi itu bukan karena&lt;br /&gt;tidak mampu mencapainya. Mereka yang tinggal di pinggiran&lt;br /&gt;Mekah, yang tidak mempunyai mata pencarian, hidup dalam&lt;br /&gt;kemiskinan dan kekurangan, ikut hanyut juga dalam hiburan itu.&lt;br /&gt;Bahkan di antaranya lebih gila lagi dari pemuka-pemuka Mekah&lt;br /&gt;dan bangsawan-bangsawan Quraisy dalam menghanyutkan diri ke&lt;br /&gt;dalam kesenangan demikian itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi jiwa Muhammad adalah jiwa yang ingin melihat,&lt;br /&gt;ingin mendengar, ingin mengetahui. Dan seolah tidak ikut&lt;br /&gt;sertanya ia belajar seperti yang dilakukan teman-temannya dari&lt;br /&gt;anak-anak bangsawan menyebabkan ia lebih keras lagi ingin&lt;br /&gt;memiliki pengetahuan. Karena jiwanya yang besar, yang kemudian&lt;br /&gt;pengaruhnya tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang&lt;br /&gt;selalu mendambakan kesempurnaan, itu jugalah yang menyebabkan&lt;br /&gt;dia menjauhi foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama&lt;br /&gt;pemduduk Mekah. Ia mendambakan cahaya hidup yang akan lahir&lt;br /&gt;dalam segala manifestasi kehidupan, dan yang akan dicapainya&lt;br /&gt;hanya dengan dasar kebenaran. Kenyataan ini dibuktikan oleh&lt;br /&gt;julukan yang diberikan orang kepadanya dan bawaan yang ada&lt;br /&gt;dalam dirinya. Itu sebabnya, sejak masa ia kanak-kanak gejala&lt;br /&gt;kesempurnaan, kedewasaan dan kejujuran hati sudah tampak,&lt;br /&gt;sehingga penduduk Mekah semua memanggilnya Al-Amin (artinya&lt;br /&gt;'yang dapat dipercaya').&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menyebabkan dia lebih banyak merenung dan berpikir, ialah&lt;br /&gt;pekerjaannya menggembalakan kambing sejak dalam masa mudanya&lt;br /&gt;itu. Dia menggembalakan kambing keluarganya dan kambing&lt;br /&gt;penduduk Mekah. Dengan rasa gembira ia menyebutkan saat-saat&lt;br /&gt;yang dialaminya pada waktu menggembala itu. Di antaranya ia&lt;br /&gt;berkata: "Nabi-nabi yang diutus Allah itu gembala kambing."&lt;br /&gt;Dan katanya lagi: "Musa diutus, dia gembala kambing, Daud&lt;br /&gt;diutus, dia gembala kambing, aku diutus, juga gembala kambing&lt;br /&gt;keluargaku di Ajyad."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gembala kambing yang berhati terang itu, dalam udara yang&lt;br /&gt;bebas lepas di siang hari, dalam kemilau bintang bila malam&lt;br /&gt;sudah bertahta, menemukan suatu tempat yang serasi untuk&lt;br /&gt;pemikiran dan permenungannya. Ia menerawang dalam suasana alam&lt;br /&gt;demikian itu, karena ia ingin melihat sesuatu di balik semua&lt;br /&gt;itu. Dalam pelbagai manifestasi alam ia mencari suatu&lt;br /&gt;penafsiran tentang penciptaan semesta ini. Ia melihat dirinya&lt;br /&gt;sendiri. Karena hatinya yang terang, jantungnya yang hidup, ia&lt;br /&gt;melihat dirinya tidak terpisah dari alam semesta itu. Bukankah&lt;br /&gt;juga ia menghirup udaranya, dan kalau tidak demikian berarti&lt;br /&gt;kematian? Bukankah ia dihidupkan oleh sinar matahari,&lt;br /&gt;bermandikan cahaya bulan dan kehadirannya berhubungan dengan&lt;br /&gt;bintang-bintang dan dengan seluruh alam? Bintang-bintang dan&lt;br /&gt;semesta alam yang tampak membentang di depannya, berhubungan&lt;br /&gt;satu dengan yang lain dalam susunan yang sudah ditentukan,&lt;br /&gt;matahari tiada seharusnya dapat mengejar bulan atau malam akan&lt;br /&gt;mendahului siang. Apabila kelompok kambing yang ada di depan&lt;br /&gt;Muhammad itu memintakan kesadaran dan perhatiannya supaya&lt;br /&gt;jangan ada serigala yang akan menerkam domba itu, jangan&lt;br /&gt;sampai - selama tugasnya di pedalaman itu - ada domba yang&lt;br /&gt;sesat, maka kesadaran dan kekuatan apakah yang menjaga susunan&lt;br /&gt;alam yang begitu kuat ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran dan permenungan demikian membuat ia jauh dari segala&lt;br /&gt;pemikiran nafsu manusia duniawi. Ia berada lebih tinggi dari&lt;br /&gt;itu sehingga adanya hidup palsu yang sia-sia akan tampak jelas&lt;br /&gt;di hadapannya. Oleh karena itu, dalam perbuatan dan&lt;br /&gt;tingkah-lakunya Muhammad terhindar dari segala penodaan nama&lt;br /&gt;yang sudah diberikan kepadanya oleh penduduk Mekah, dan memang&lt;br /&gt;begitu adanya: Al-Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini dibuktikan oleh keterangan yang diceritakannya&lt;br /&gt;kemudian, bahwa ketika itu ia sedang menggembala kambing&lt;br /&gt;dengan seorang kawannya. Pada suatu hari hatinya berkata,&lt;br /&gt;bahwa ia ingin bermain-main seperti pemuda-pemuda lain. Hal&lt;br /&gt;ini dikatakannya kepada kawannya pada suatu senja, bahwa ia&lt;br /&gt;ingin turun ke Mekah, bermain-main seperti para pemuda di&lt;br /&gt;gelap malam, dan dimintanya kawannya menjagakan kambing&lt;br /&gt;ternaknya itu. Tetapi sesampainya di ujung Mekah, perhatiannya&lt;br /&gt;tertarik pada suatu pesta perkawinan dan dia hadir di tempat&lt;br /&gt;itu. Tetapi tiba-tiba ia tertidur. Pada malam berikutnya&lt;br /&gt;datang lagi ia ke Mekah, dengan maksud yang sama. Terdengar&lt;br /&gt;olehnya irama musik yang indah, seolah turun dari langit. Ia&lt;br /&gt;duduk mendengarkan. Lalu tertidur lagi sampai pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi apakah gerangan pengaruh segala daya penarik Mekah itu&lt;br /&gt;terhadap kalbu dan jiwa yang begitu padat oleh pikiran dan&lt;br /&gt;renungan? Gerangan apa pula artinya segala daya penarik yang&lt;br /&gt;kita gambarkan itu yang juga tidak disenangi oleh mereka yang&lt;br /&gt;martabatnya jauh di bawah Muhammad?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu ia terhindar dari cacat. Yang sangat terasa benar&lt;br /&gt;nikmatnya, ialah bila ia sedang berpikir atau merenung. Dan&lt;br /&gt;kehidupan berpikir dan merenung serta kesenangan bekerja&lt;br /&gt;sekadarnya seperti menggembalakan kambing, bukanlah suatu cara&lt;br /&gt;hidup yang membawa kekayaan berlimpah-limpah baginya. Dan&lt;br /&gt;memang tidak pernah Muhammad mempedulikan hal itu. Dalam&lt;br /&gt;hidupnya ia memang menjauhkan diri dari segala pengaruh&lt;br /&gt;materi. Apa gunanya ia mcngejar itu padahal sudah menjadi&lt;br /&gt;bawaannya ia tidak pernah tertarik? Yang diperlukannya dalam&lt;br /&gt;hidup ini asal dia masih dapat menyambung hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukankah dia juga yang pernahh berkata: "Kami adalah golongan&lt;br /&gt;yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila sudah makan tidak&lt;br /&gt;sampai kenyang?" Bukankah dia juga yang sudah dikenal orang&lt;br /&gt;hidup dalam kekurangan selalu dan minta supaya orang&lt;br /&gt;bergembira menghadapi penderitaan hidup? Cara orang mengejar&lt;br /&gt;harta dengan serakah hendak memenuhi hawa nafsunya, sama&lt;br /&gt;sekali tidak pernah dikenal Muhammad selama hidupnya.&lt;br /&gt;Kenikmatan jiwa yang paling besar, ialah merasakan adanya&lt;br /&gt;keindahan alam ini dan mengajak orang merenungkannya. Suatu&lt;br /&gt;kenikmatan besar, yang hanya sedikit saja dikenal orang.&lt;br /&gt;Kenikmatan yang dirasakan Muhammad sejak masa pertumbuhannya&lt;br /&gt;yang mula-mula yang telah diperlihatkan dunia sejak masa&lt;br /&gt;mudanya adalah kenangan yang selalu hidup dalam jiwanya, yang&lt;br /&gt;mengajak orang hidup tidak hanya mementingkan dunia. Ini&lt;br /&gt;dimulai sejak kematian ayahnya ketika ia masih dalam&lt;br /&gt;kandungan, kemudian kematian ibunya, kemudian kematian&lt;br /&gt;kakeknya. Kenikmatan demikian ini tidak memerlukan harta&lt;br /&gt;kekayaan yang besar, tetapi memerlukan suatu kekayaan jiwa&lt;br /&gt;yang kuat. sehingga orang dapat mengetahui: bagaimana ia&lt;br /&gt;memelihara diri dan menyesuaikannya dengan kehidupan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Andaikata pada waktu itu Muhammad dibiarkan saja begitu, tentu&lt;br /&gt;takkan tertarik ia kepada harta. Dengan keadaannya itu ia akan&lt;br /&gt;tetap bahagia, seperti halnya dengan gembala-gembala pemikir,&lt;br /&gt;yang telah menggabungkan alam ke dalam diri mereka dan telah&lt;br /&gt;pula mereka berada dalam pelukan kalbu alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi Abu Talib pamannya - seperti sudah kita sebutkan&lt;br /&gt;tadi -hidup miskin dan banyak anak. Dari kemenakannya itu ia&lt;br /&gt;mengharapkan akan dapat memberikan tambahan rejeki yang akan&lt;br /&gt;diperoleh dari pemilik-pemilik kambing yang kambingnya&lt;br /&gt;digembalakan. Suatu waktu ia mendengar berita, bahwa Khadijah&lt;br /&gt;bint Khuwailid mengupah orang-orang Quraisy untuk menjalankan&lt;br /&gt;perdagangannya. Khadijah adalah seorang wanita pedagang yang&lt;br /&gt;kaya dan dihormati, mengupah orang yang akan memperdagangkan&lt;br /&gt;hartanya itu. Berasal dari Keluarga (Banu) Asad, ia bertambah&lt;br /&gt;kaya setelah dua kali ia kawin dengan keluarga Makhzum,&lt;br /&gt;sehingga dia menjadi seorang penduduk Mekah yang terkaya. Ia&lt;br /&gt;menjalankan dagangannya itu dengan bantuan ayahnya Khuwailid&lt;br /&gt;dan beberapa orang kepercayaannya. Beberapa pemuka Quraisy&lt;br /&gt;pernah melamarnya, tetapi ditolaknya. Ia yakin mereka itu&lt;br /&gt;melamar hanya karena memandang hartanya. Sungguhpun begitu&lt;br /&gt;usahanya itu terus dikembangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tatkala Abu Talib mengetahui, bahwa Khadijah sedang menyiapkan&lt;br /&gt;perdagangan yang akan dibawa dengan kafilah ke Syam, ia&lt;br /&gt;memanggil kemenakannya - yang ketika itu sudah berumur&lt;br /&gt;duapuluh lima tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anakku," kata Abu Talib, "aku bukan orang berpunya. Keadaan&lt;br /&gt;makin menekan kita juga. Aku mendengar, bahwa Khadijah&lt;br /&gt;mengupah orang dengan dua ekor anak unta. Tapi aku tidak&lt;br /&gt;setuju kalau akan mendapat upah semacam itu juga. Setujukah&lt;br /&gt;kau kalau hal ini kubicarakan dengan dia?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terserah paman," jawab Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Talibpun pergi mengunjungi Khadijah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Khadijah, setujukah kau mengupah Muhammad?" tanya Abu Talib.&lt;br /&gt;"Aku mendengar engkau mengupah orang dengan dua ekor anak unta&lt;br /&gt;Tapi buat Muhammad aku tidak setuju kurang dari empat ekor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau permintaanmu itu buat orang yang jauh dan tidak&lt;br /&gt;kusukai, akan kukabulkan, apalagi buat orang yang dekat dan&lt;br /&gt;kusukai." Demikian jawab Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembalilah sang paman kepada kemenakannya dengan menceritakan&lt;br /&gt;peristiwa itu. "Ini adalah rejeki yang dilimpahkan Tuhan&lt;br /&gt;kepadamu," katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat nasehat paman-pamannya Muhammad pergi dengan&lt;br /&gt;Maisara, budak Khadijah. Dengan mengambil jalan padang pasir&lt;br /&gt;kafilah itupun berangkat menuju Syam, dengan melalui&lt;br /&gt;Wadi'l-Qura, Madyan dan Diar Thamud serta daerah-daerah yang&lt;br /&gt;dulu pernah dilalui Muhammad dengan pamannya Abu Talib tatkala&lt;br /&gt;umurnya baru duabelas tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan sekali ini telah menghidupkan kembali kenangannya&lt;br /&gt;tentag perjalanan yang pertama dulu itu. Hal ini menambah dia&lt;br /&gt;lebih banyak bermenung, lebih banyak berpikir tentang segala&lt;br /&gt;yang pernah dilihat, yang pernah didengar sebelumnya: tentang&lt;br /&gt;peribadatan dan kepercayaan-kepercayaan di Syam atau di&lt;br /&gt;pasar-pasar sekeliling Mekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di Bushra ia bertemu dengan agama Nasrani Syam.&lt;br /&gt;Ia bicara dengan rahib-rahib dan pendeta-pendeta agama itu,&lt;br /&gt;dan seorang rahib Nestoria juga mengajaknya bicara. Barangkali&lt;br /&gt;dia atau rahib-rahib lain pernah juga mengajak Muhammad&lt;br /&gt;berdebat tentang agama Isa, agama yang waktu itu sudah&lt;br /&gt;berpecah-belah menjadi beberapa golongan dan sekta-sekta -&lt;br /&gt;seperti sudah kita uraikan di atas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kejujuran dan kemampuannya ternyata Muhammad mampu&lt;br /&gt;benar memperdagangkan barang-barang Khadijah, dengan cara&lt;br /&gt;perdagangan yang lebih banyak menguntungkan daripada yang&lt;br /&gt;dilakukan orang lain sebelumnya. Demikian juga dengan karakter&lt;br /&gt;yang manis dan perasaannya yang luhur ia dapat menarik&lt;br /&gt;kecintaan dan penghormatan Maisara kepadanya. Setelah tiba&lt;br /&gt;waktunya mereka akan kembali, mereka membeli segala barang&lt;br /&gt;dagangan dari Syam yang kira-kira akan disukai oleh Khadijah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan kembali kafilah itu singgah di&lt;br /&gt;Marr'-z-Zahran. Ketika itu Maisara berkata: "Muhammad,&lt;br /&gt;cepat-cepatlah kau menemui Khadijah dan ceritakan&lt;br /&gt;pengalamanmu. Dia akan mengerti hal itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhammad berangkat dan tengah hari sudah sampai di Mekah.&lt;br /&gt;Ketika itu Khadijah sedang berada di ruang atas. Bila&lt;br /&gt;dilihatnya Muhammad di atas unta dan sudah memasuki halaman&lt;br /&gt;rumahnya. ia turun dan menyambutnya. Didengarnya Muhammad&lt;br /&gt;bercerita dengan bahasa yang begitu fasih tentang&lt;br /&gt;perjalanannya serta laba yang diperolehnya, demikian juga&lt;br /&gt;mengenai barang-barang Syam yang dibawanya. Khadijah gembira&lt;br /&gt;dan tertarik sekali mendengarkan. Sesudah itu Maisarapun&lt;br /&gt;datang pula yang lalu bercerita juga tentang Muhammad, betapa&lt;br /&gt;halusnya wataknya, betapa tingginya budi-pekertinya. Hal ini&lt;br /&gt;menambah pengetahuan Khadijah di samping yang sudah&lt;br /&gt;diketahuinya sebagai pemuda Mekah yang besar jasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam waktu singkat saja kegembiraan Khadijah ini telah&lt;br /&gt;berubah menjadi rasa cinta, sehingga dia - yang sudah berusia&lt;br /&gt;empatpuluh tahun, dan yang sebelum itu telah menolak lamaran&lt;br /&gt;pemuka-pemuka dan pembesar-pembesar Quraisy - tertarik juga&lt;br /&gt;hatinya mengawini pemuda ini, yang tutur kata dan pandangan&lt;br /&gt;matanya telah menembusi kalbunya. Pernah ia membicarakan hal&lt;br /&gt;itu kepada saudaranya yang perempuan - kata sebuah sumber,&lt;br /&gt;atau dengan sahabatnya, Nufaisa bint Mun-ya - kata sumber&lt;br /&gt;lain. Nufaisa pergi menjajagi Muhammad seraya berkata: "Kenapa&lt;br /&gt;kau tidak mau kawin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak punya apa-apa sebagai persiapan perkawinan," jawab&lt;br /&gt;Muhammad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau itu disediakan dan yang melamarmu itu cantik, berharta,&lt;br /&gt;terhormat dan memenuhi syarat, tidakkah akan kauterima?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa itu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nufaisa menjawab hanya dengan sepatah kata: "Khadijah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dengan cara bagaimana?" tanya Muhammad. Sebenarnya ia sendiri&lt;br /&gt;berkenan kepada Khadijah sekalipun hati kecilnya belum lagi&lt;br /&gt;memikirkan soal perkawinan, mengingat Khadijah sudah menolak&lt;br /&gt;permintaan hartawan-hartawan dan bangsawan-bangsawan Quraisy.&lt;br /&gt;Setelah atas pertanyaan itu Nufaisa mengatakan: "Serahkan hal&lt;br /&gt;itu kepadaku," maka iapun menyatakan persetujuannya. Tak lama&lt;br /&gt;kemudian Khadijah menentukan waktunya yang kelak akan dihadiri&lt;br /&gt;oleh paman-paman Muhammad supaya dapat bertemu dengan keluarga&lt;br /&gt;Khadijah guna menentukan hari perkawinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian perkawinan itu berlangsung dengan diwakili oleh paman&lt;br /&gt;Khadijah, Umar bin Asad, sebab Khuwailid ayahnya sudah&lt;br /&gt;meninggal sebelum Perang Fijar. Hal ini dengan sendirinya&lt;br /&gt;telah membantah apa yang biasa dikatakan, bahwa ayahnya ada&lt;br /&gt;tapi tidak menyetujui perkawinan itu dan bahwa Khadijah telah&lt;br /&gt;memberikan minuman keras sehingga ia mabuk dan dengan begitu&lt;br /&gt;perkawinannya dengan Muhammad kemudian dilangsungkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah dimulainya lembaran baru dalam kehidupan Muhammad.&lt;br /&gt;Dimulainya kehidupan itu sebagai suami-isteri dan ibu-bapa,&lt;br /&gt;suami-isten yang harmonis dan sedap dari kedua belah pihak,&lt;br /&gt;dan sebagai ibu-bapa yang telah merasakan pedihnya kehilangan&lt;br /&gt;anak sebagaimana pernah dialami Muhammad yang telah kehilangan&lt;br /&gt;ibu-bapa semasa ia masih kecil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;My Keyword:&lt;br /&gt;sejarah nabi muhammad&lt;br /&gt;kisah nabi muhammad&lt;br /&gt;nabi muhhamad history&lt;br /&gt;perjalanan nabi muhammad&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-2216005358071603038?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/2216005358071603038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/03/perkawinan-abdullah-dengan-aminah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2216005358071603038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2216005358071603038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/03/perkawinan-abdullah-dengan-aminah.html' title='Sejarah Nabi Muhammad'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-2386583475883618055</id><published>2010-02-17T22:41:00.000-08:00</published><updated>2010-02-17T22:41:13.610-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH'/><title type='text'>PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH</title><content type='html'>Puasa Dalam Islam &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puasa dalam agama Islam artinya menahan diri dari makan dan minum serta segala perbuatan yang bisa membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar hinggalah terbenam matahari, untuk meningkatkan ketakwaan seorang muslim. Perintah puasa difirmankan oleh Allah pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183.&lt;br /&gt;Berpuasa merupakan salah satu dari lima Rukun Islam. Terdapat puasa wajib dan puasa sunnah, namun tata caranya tetap sama.&lt;br /&gt;Waktu haram puasa adalah waktu saat umat Muslim dilarang berpuasa. Hikmah puasa adalah ketika semua orang bergembira, seseorang itu perlu turut bersama merayakannya.&lt;br /&gt;•Hari Raya Idul Fitri (1 Syawal)&lt;br /&gt;•Hari Raya Idul Adha (10 Zulhijjah)&lt;br /&gt;•Hari-hari Tasyrik (11, 12, dan 13 Zulhijjah)&lt;br /&gt;Perintah dalam Al-Quran&lt;br /&gt;Perintah berpuasa dari Allah terdapat dalam Al-Quran di surat Al-Baqarah ayat 183.&lt;br /&gt;"Yaa ayyuhaladziina aamanuu kutiba alaikumus siyaamu kamaa kutiba 'alalladziina min qablikum la allakum tataquun"&lt;br /&gt;“ Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan ke atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan ke atas umat-umat yang sebelum kamu, semoga kamu menjadi orang-orang yang bertaqwa."&lt;br /&gt;Hikmah Puasa&lt;br /&gt;Ibadah shaum Ramadhan yang diwajibkan Allah kepada setiap mu’min adalah ibadah yang ditujukan untuk menghamba kepada Allah seperti yang tertera dalam QS. Al- Baqarah/2: 183. Hikmah dari ibadah shaum itu sendiri adalah melatih manusia untuk sabar dalam menjalani hidup. Maksud dari sabar yang tertera dalam al-Quran adalah ‘gigih dan ulet’ seperti yang dimaksud dalam QS. Ali ‘Imran/3: 146.&lt;br /&gt;Secara Aktivitas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-2386583475883618055?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/2386583475883618055/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/02/puasa-wajib-dan-puasa-sunnah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2386583475883618055'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2386583475883618055'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/02/puasa-wajib-dan-puasa-sunnah.html' title='PUASA WAJIB DAN PUASA SUNNAH'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-1946625218304241268</id><published>2010-01-25T19:48:00.000-08:00</published><updated>2010-01-25T19:48:44.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Macam dan Jenis Penyakit Hati atau Sifat Buruk - Iri Hati'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Hasut'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Dengki'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dan Khianat - Definisi dan Pengertian'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fitnah'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Buruk Sangka'/><title type='text'>Macam &amp; Jenis Penyakit Hati / Sifat Buruk - Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat - Definisi &amp; Pengertian</title><content type='html'>Macam &amp; Jenis Penyakit Hati / Sifat Buruk - Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat - Definisi &amp; Pengertian&lt;br /&gt;PENYAKIT HATI&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Macam &amp; Jenis Penyakit Hati / Sifat Buruk - Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat - Definisi &amp; Pengertian&lt;br /&gt;Macam-macam arti penyakit hati dan sifat buruk manusia :&lt;br /&gt;1. Iri Hati&lt;br /&gt;Iri hati adalah suatu sifat yang tidak senang akan rizki / rejeki dan nikmat yang didapat oleh orang lain dan cenderung berusaha untuk menyainginya. Iri hati yang diperbolehkan dalam ajaran islam adalah iri dalam hal berbuat kebajikan, seperti iri untuk menjadi pintar agar dapat menyebarkan ilmunya di kemudian hari. Atau iri untuk membelanjakan harta di jalan kebenaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dengki&lt;br /&gt;Dengki adalah sikap tidak senang melihat orang lain bahagia dan berusaha untuk menghilangkan nikmat tersebut. Sifat ini sangat berbahaya karena tidak ada orang yang suka dengan orang yang memiliki sifat seperti ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Hasut / Hasud / Provokasi&lt;br /&gt;Hasud adalah suatu sifat yang ingin selalu berusaha mempengaruhi orang lain agar amarah / marah orang tersebut meluap dengan tujuan agar dapat memecah belah persatuan dan tali persaudaraan agar timbul permusuhan dan kebencian antar sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Fitnah&lt;br /&gt;Fitnah lebih kejam dari pembunuhan adalah suatu kegiatan menjelek-jelekkan, menodai, merusak, menipu, membohongi seseorang agar menimbulkan permusuhan sehingga dapat berkembang menjadi tindak kriminal pada orang lain tanpa bukti yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Buruk Sangka&lt;br /&gt;Buruk sangka adalah sifat yang curiga atau menyangka orang lain berbuat buruk tanpa disertai bukti yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Khianat / Hianat&lt;br /&gt;Hianat adalah sikap tidak bertanggungjawab atau mangkir atas amanat atau kepercayaan yang telah dilimpahkan kepadanya. Khianat biasanya disertai bohong dengan mengobral janji. Khianat adalah ciri-ciri orang munafik. Orang yang telah berkhianat akan dibenci orang disekitarnya dan kemungkinan besar tidak akan dipercaya lagi untuk mengemban suatu tanggung jawab di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga istilah penyakit hati:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Hasud adalah rasa atau sikap tidak senang terhadap kehormatan (kenikmatan) yang diperoleh orang lain dan berusaha untuk menghilangkannya atau mencelakkannyaorang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang yang beriman kepada qada dan qadar tentu tidak akan bersikap dengki kepada orang lain yang mempunyai kelebihan karena ia menyadari bahwa hal itu merupakan kehendak dan kekuasaan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap muslim / muslimah wajib hukumnya menjauhi sifat hasud (dengki) karena hasud termasuk sifat tercela dan merupakan perbuatan dosa. Firman Allah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ÿwur (#öq¨YyJtGs? $tB Ÿ@žÒsù ª!$# ¾ÏmÎ/ öNä3ŸÒ÷èt/ 4’n?tã &lt;Ù÷èt/ ÇÌËÈ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikarunkan Allah kepada sebahagiankamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Q.S. An-nisa, 4:32)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulallah Saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَحَاسَدُوْا وَلَا تَقَاطَعُوْا وَلَا تَبَاغَضُوْا وَلَا تَدَابَرُوْا وَكُوْنُوْاعِبَادَاللَّهِ اِخْوَانًا كَمَا اَمَرَكُمُ اللَّهِ (رواه البحاري و مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya “ janganlah kamu saling mendengki, saling memutuskan hubungan, saling benci membenci, dan saling belakang membelakangi yang tetapi jadilah kamu hamba Allah yang bersaudara, sebagaimana yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kerugian atau bahaya yang ditimbulkan oleh sifat hasud antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat merusak iman yang hasud.&lt;br /&gt;Dapat memutuskan hubungan persaudaraan dan menghapus segala kebaikan yang pernah dilaksanakan.&lt;br /&gt;Dapat menimbulkan kerugian atau bencana baik bagi pendengki maupun orang yang didengki. Itulah sebabnya di dalam Alquran surat Al-Falaq, 1, 2 dan 5, orang-orang diperintah untuk mohon perlindungan kepada Allah SWT dari kejahatan pendengki apabila mendengki(hasud).&lt;br /&gt;Dapat merusak mental (hti) pendengki itu sendiri, sehingga kehidupan merasa gelisah dan tidak memperolah ketentraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Riya adalah memperlihatkan suatu ibadah dan amal shaleh kepada orang lain bukan karena Allah, karena sesuatu selain Allah. Sedangkan mendengarkan ucapan ibadah dan amal saleh kepada orang lain dengan maksud kepada riya’ disebut sum’ah. Riya dan sum’ah termasuk perilaku tercela, syirik kecil yang hukumnya haram dan harus dijauhi oleh setiap muslim(muslimah). Rasulallah bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَخْوَفُ مَا اَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْاَصْغَرُ فَسُئِلَ عَنْهُ فَقَاَلَ اَلرِّيَاءُ (رواه احمد)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Sesungguhnya yang sangat aku takutkan yang akan menimpa kamu ialah syirik kecil. Nabi Saw ditanya tentang apa yang dimaksud dengan syirik kecil itu maka beliau menjawab; yaitu Riya. (H.R. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya dalam urusan keagamaan, misalkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Seseorang mempercayakannya kepada kebenaran agama islam dan seluruh ajarannya, padahal hatinya sebenarnya tidak percaya. Ia memperlihatkan kepercayaannya itu bukan karena Allah tetapi karena ingin memperoleh pujian dan keuntungan duniawi. Ia termasuk orang munafik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;§ Seseorang melakukan salat berjamaah di mesjid dengan maksud bukan ingin memperoleh keridaan Allah Swt, teapi agar mendapat penilaian dari masyarakat sebagai muslim yang taat, orang seperti itu kalau berada sendirian biasanya tidak mau mengerjakan salat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya dalam urusan keduniaan misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang memperlihatkan kesungguhan dan kedisiplinannya dalam bekerja kepada atasannya, dengan tidak dilandasi nilai ikhlas kepada Allah Swt, karena ingin dinilai baik oleh atasannya, lalu pangkatnya atau gajinya dinaikan. Orang sebenarnya ini bila pangkatnya atau gajinya tidak naik tentu kerjanya akan bermalas-malas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun kerugian atau bencana akibat riya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Para pejabat yang bermental jahat, apabila suka bersikap dan berperilaku riya’, tentu akan melakukan perbuatan yang merugikan rakyat, seperti korupsi. Orang-orang yang riya dibidang kepercayaan dan keimanaan, sebenarnya merupakan orang-orang munafik yang pada suatu saat akan menodai kesucian islam dan mencelakakan kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;o Seseorang yang beribadah dan beramal saleh tidak berlandaskan dengan niat karena Allah Swt, tetapi tujuannya hanya untuk kemsyuran atau keuntungan dunia, maka di alam akhirat kelak ia akan dicampakan ke dalam neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;v Aniaya adalah bersikap dan berperilaku tidak adil aniaya atau bengis yaitu suatu tindakan yang tidak manusiawi yang bertentangan dengan hak sesama manusia. Firman Allah Swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;`tBur £‰yètGtƒ yŠrß‰ãn «!$# y7Í´¯»s9'ré'sù ãNèd tbqãKÎ=»©à9$# ÇËËÒÈ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya: “Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat aniaya atau zalim dapat dibagi menjadi beberapa macam, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a) Aniaya kepada Allah SWT dengan cara tidak mau melaksanakan perintah Allah yang wajib, dan tidak meninggalkan larangan Allah yang haram.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b) Aniaya terhadap sesame manusia seperi ghibah (mengumpat), namimah (mengadu domba), fitnah, mencuri, merampok, melakukan peniksaan, dan melakukan pembunuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c) Aniyaya terhadap binatang misalnya menjadikan binatang sebagai sasaran latihan memanah atau menembak, menelantarkan binatang peliharaan dan menyembelih hewan dengan senjata yang tumpul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d) Aniyaya terhadap diri sendiri, misalnya: membiarkan diri sendiri dalam keadaan bodoh dan miskin, karena malas, meminum minuman keras, menyalah gunakan obat-obat terlarang, menyiksa diri sendiri, dan bunuh diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keburukan-keburukan perbuatan aniyaya dapat menimpa pelaku, orang yang dianiaya dan masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keburukan-keburukan yang akan dialami oleh penganiaya antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan disenangi bahkan akan dibenci masyarakat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidupnya tidak akan tenang, karena dibayangi rasa takut&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memcemarkan nama baik dirinya dan keluarganya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keburukan-keburukan yang akan dialami oleh orang yang dianiaya dan masyarakat antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang dianiaya akan mengalami kerugian dan bencana sesuai dengan jenis penganiayan terhadap dirinya, misalnya: kehilangan harta benda, menderita sakit fisik dan memtal bahkan sampai kehilangan jwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila penganiaya itu terjadi dimana-mana maka masyarakat tidak akan memperoleh kedamaian dan ketentraman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semangat dan gairah kerja masyarakat akan menurun, karena mereka dibanyangi rasa takut terhadap perbutan-perbuatan orang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;HASAD DENGKI, kita tentu sudah sangat familiar dengan kata-kata tersebut. Bahkan dulu mungkin sewaktu pelajaran agama SD , kita sering memilih sifat tercela yang satu ini ketika diminta menuliskan contoh sifat tercela. Hasad dengki sering disebut juga dengki atau iri dan hasad. Untuk mendiagnosis gejala penyakit hasad dengki ini sebenarnya cukup simpel, yaitu dengan cukup bertanya kepada diri kita, apakah kita termasuk orang yang senang lihat orang susah dan susah lihat orang senang? Nah, apabila di dalam hati kita terdapat tanda-tanda atau sifat diatas itu maka boleh jadi kita termasuk orang yang sedang terjangkit penyakit Hasad Dengki, sebuah penyakit diantara sekian banyak penyakit ruhani yang amat berbahaya. Kita mesti segera mencari obatnya, sebab kalau kita kekalkan penyakit ini di dalam hati, maka kita takut tidak selamat di dunia terlebih di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi sayang hingga saat ini belum ada Rumah Sakit Spesialis Penyakit Hasad Dengki. Berarti ya kita mesti cari dokter ruhani alias Mursyid yang dapat mengobati penyakit hati hati kita..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap orang menderita penyakit hasad dengki ini, cuma bedanya banyak atau sedikit, bertindak atau tidak. Dalam sebuah hadis disebutkan tentang enam golongan manusia yang dicampakkan ke dalam neraka, satu diantaranya adalah orang atau ulama yang di dalam hatinya terdapat hasad dengki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, yang artinya : “sesungguhnya hasad dengki itu memakan kebaikan sepertimana api memakan kayu bakar”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang di dalam hatinya terdapat penyakit hasad dengki ini, hidupnya tidak akan pernah bahagia, jiwanya senantiasa menderita dan tersiksa. Hatinya selalu tersiksa jika melihat orang lain lebih dari dirinya atau mendapat nikmat serta kejayaan. Dan sebaliknya dia akan bergembira bila orang lain susah dan gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka dari itu, hasad dengki inilah penyakit kronis yang merusak perpaduan dan ukhuwah. Akan timbul di dalam masyarakat fitnah memfitnah, dendam mendendam, buruk sangka,mengumpat, mengadu domba, dan dosa-dosa lain yang akan menghapuskan segala kebaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang melayani sifat hasad dengkinya, maka pada hakikatnya dia adalah orang yang paling biadab dengan Allah, sebab secara tidak langsung dia benci kepada Allah, dia tidak redha pada apa yang Allah telah berikan kepada orang lain serta kepada dirinya.Sekalipun ibadahnya banyak, tahajudnya banyak dan shalatnya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sebuah kisah para Sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah SAW, terjemahannya : “ wahai Rasulullah, sesungguhnya ada seorang wanita yang berpuasa siang hari dan shalat tahajud di malam harinya, tetapi selalu menyakiti tetangganya dengan lidahnya”. Jawab baginda Rasulullah SAW : “ Tidak ada kebaikan lagi baginya, ia adalah ahli neraka”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;tips yang mesti kita lakukan sebagai mujahadah terhadap hasad dengki ialah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali orang yang kita dengki mendapat kejayaan, maka kita ucapkan selamat kepadanya. Dan sebaliknya apabila dia tertimpa kesusahan maka kita menumpang sedih juga atas apa yang menimpanya serta menghiburnya.&lt;br /&gt;Sanjung, sebut dan pujilah kebaikan serta keistimewaan orang yang kita dengki di belakang dia, dan kalau ada keburukannya kita rahasiakan. Doakan kebaikan untuknya.&lt;br /&gt;Sering-sering bersilaturahmi serta memberi hadiah kepada orang yang kita dengki tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-1946625218304241268?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/1946625218304241268/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/01/macam-jenis-penyakit-hati-sifat-buruk.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/1946625218304241268'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/1946625218304241268'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2010/01/macam-jenis-penyakit-hati-sifat-buruk.html' title='Macam &amp; Jenis Penyakit Hati / Sifat Buruk - Iri Hati, Dengki, Hasut, Fitnah, Buruk Sangka, dan Khianat - Definisi &amp; Pengertian'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-968142746231017625</id><published>2009-12-09T00:08:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T00:50:15.319-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='PAI 2009-2010 PAK GUNAWAN'/><title type='text'>SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL / PAI 2009-2010 /PAK GUNAWAN</title><content type='html'>SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL / PAI 2009-2010 /&lt;a href="http://www.pak-gunawan.blogspot.com"&gt;PAK GUNAWAN&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DIKERJAKAN OLEH :&lt;a href="http://www.faras-shadiq.blogspot.com"&gt;Farraas Shadiq&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;1. Tuliskan pengertian dari Qalqalah dan pembagiannya beserta contoh masing-masing huruf ?&lt;br /&gt;2. Apa yang dimaksud dengan zuhud ,tawakal ?&lt;br /&gt;3. Mengapa Al-Quran di turunkan secara berangsur-angsur ?&lt;br /&gt;4.Tuliskan 5 contoh prilaku yang mencerminkan sifat zuhud dan tawakal dalam pergulan sehari-hari?&lt;br /&gt;5. Carilah dalil atau bukti dari Al-Quran tentang :&lt;br /&gt;a. Zuhud    &lt;br /&gt;b.Tawakal&lt;br /&gt;c. Kemurnian Al-Quran&lt;br /&gt;d. Perintah mempelajari Al-Quran&lt;br /&gt;e. Tidak menyakiti tetangga&lt;br /&gt;f.  Sabar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jawab:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pengertian Qolqalah adalah&lt;br /&gt;Secara bahasa adalah at-taharruk wal-idtirah (bergerak dan gemetar).&lt;br /&gt;Secara istilah adalah suara tambahan (pantulan yang kuat dan jelas yang terjadi pada huruf yang bersukun setelah menekan pada makhrraj huruf tersebut.&lt;br /&gt;Huruf-huruf qalqalah ada 5, yang tergabung dalam  yaitu: huruf  ,  ,  ,  dan  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembagian Qolqolah ada 2 macam, yaitu&lt;br /&gt;Qalqalah sugra (kecil) adalah huruf qalqalah bertanda sukun asl i atau bersukun di tengah kalimat. Contoh: &lt;br /&gt;Qalqalah kubra (besar) adalah huruf qalqalah bersukun di akhir kalimat atau karena diwaqafkan. Contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Yang dimaksud dengan zuhud adalah tindakan menghindari kecintaan berlebihan terhadap harta atau kesenangan dunia sesuai dengan ketentuan Allah.&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan tawakal adalah rela hati menerima hasil yang telah diusahakan dengan sungguh-sungguh dan menyeerahkan ketentuannya kepada Allah.&lt;br /&gt;3. Al Quran di turunkan secara berangsur-angsur dalam masa 22 tahun 2 bulan 22 hari. Hikmah Al Quran diturunkan secara berangsur-angsur agar lebih mudah di laksanakan.  Orang akan enggan melaksanakan suruhan dan larangan sekiranya suruhan dan larangan itu diturunkan sekaligus. Hal ini disebutkan oleh Bukhari dari riwayat Aisyah. Hikmah Al Quran pun diturunkan sesuai dangan peristiwa-peristiwa yang terjadi dan ini akan lebih berpengaruh di hati dan memberi kesan kepada manusia. Al Quran juga diturnkan berangsur-angsur untuk memudahkan penghafalan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Contoh sifat zuhud adalahya &lt;br /&gt;-  sehabis saya mencuci mobil dan beberapa saat kemudian hujan dan mobil tadi jorok lagi&lt;br /&gt;-  saya sudah membetulkan sepeda saya tetapi rusak lagi&lt;br /&gt;- ketika hujan rumah saya banjir karena hujanya sangat lebat   &lt;br /&gt;- ketika banjir buku-buku saya basah terkena banjir  tetapi saya berusaha untuk mengeringkannya&lt;br /&gt;- ketika saya sedang  sedang menghafal saya digangu tetapi saya tetap menghafal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh sifat tawakal adalah&lt;br /&gt;-  saya mendapat nilai jelek saya tidak berputus asa untuk belajar lebih giat&lt;br /&gt;-  saya sakit asma (sesak nafas) tapi saya tetap ingin sembuh&lt;br /&gt;- saya bermain sepeda dan sangat berhati-hati tetapi saya terjatuh&lt;br /&gt;- saya sudah megunci rumah tetapi masuk pencuri&lt;br /&gt;- saya sudah berlatih setiap hari tetapi saya kalah &lt;br /&gt;5. Dalil atau bukti dari al-quran tentang: &lt;br /&gt;Zuhud: “Dijadikan indah pada (pandangan ) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu, wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan disisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali ‘Imran [3] ayat 14).&lt;br /&gt;Tawakal: “Allah-lah yang menciptakan kamu, memberikan rezeki, kemudian mematikanmu (kembali). adakah diantara yang kamu sekutukan dengan Allah itu dapat berbuat sesuatu dari yang demikian itu? Mahasucilah dia dan Mahatinggi dari apa yang mereka sekutukan.” (QS. Ar-Rum [30] ayat 40).&lt;br /&gt;Kemurnian Al-qur’an: “Sungguh kami telah menurunkan adz Zikir (al-Quran) dan sungguh kami yang akan tetap memeliharanya”. (QS. Al-Hijr [15] ayat 9)&lt;br /&gt;Perintah mempelajari Al-quran: “Barang siapa membaca satu huruf dari Al-quran maka baginya satu kebajikan, sedangkan kebajikan itu pahalanya sepuluh kalinya.” (HR. At-tirmizi)&lt;br /&gt;Tidak menyakiti tetangga: “"Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga yang jauh." (An-Nisa': 36).&lt;br /&gt;Sabar: “dan orang-orang yang sabar karena mencari keridhaan Tuhannya, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezki yang Kami berikan kepada mereka, secara sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan; orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) syurga 'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum = keselamatan atasmu berkat kesabaranmu ". Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu (QS Ar-ra'd [13]: 22-24)"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-968142746231017625?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/968142746231017625/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/12/soal-ujian-semester-ganjil-pai-2009.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/968142746231017625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/968142746231017625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/12/soal-ujian-semester-ganjil-pai-2009.html' title='SOAL UJIAN SEMESTER GANJIL / PAI 2009-2010 /PAK GUNAWAN'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-8561328797749264498</id><published>2009-11-04T02:15:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T17:30:31.671-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Copel Mhd Adit'/><title type='text'>Pengertian Zuhud</title><content type='html'>Pengertian Zuhud&lt;br /&gt;Pr dari &lt;a href="http://www.pak-gunawan.blogpot.com"&gt;Pak gun&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;sebagian masyarakat muslim beranggapan bahwa orang zuhud adalah orang yang dalam hidupnya telah meninggalkan dunia.ia hidup ditempat yang sepi dan bekerja hanya beribadah.ia tidak memikirkan tentang dunia.benarkah anggapan yang demikian itu? bagaimana zhud yang sebenarnya? berikut ini akan dipaparkan pengertian zuhud dan seluk beluknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dari segi bahasa zuhud berarti meninggalkan,tidak suka,atau menjauh kan diri.dalam pengertian istilah,zuhud adalah kondisi mental seseorang mengabdikan didr kepada allah secara berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 3 tingkatan zuhud yaitu:&lt;br /&gt;1. Tingkat Mubtadi' (tingkat pemula) yaitu orang yang tidak memiliki sesuatu dan hatinya pun tidak ingin memilikinya.&lt;br /&gt;2. Tingkat Mutahaqqiq yaitu orang yang bersikap tidak mau mengambil keuntungan pribadi dari harta benda duniawi karena ia tahu dunia ini tidak mendatangkan keuntungan baginya.&lt;br /&gt;3. Tingkat Alim Muyaqqin yaitu orang yang tidak lagi memandang dunia ini mempunyai nilai, karena dunia hanya melalaikan orang dari mengingat Allah. (menurut Abu Nasr As Sarraj At Tusi)&lt;br /&gt;Copel Dari : &lt;a href="http://www.mhd-aditya.blogspot.com"&gt;mhd aditya&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-8561328797749264498?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/8561328797749264498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/11/pengertian-zuhud.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/8561328797749264498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/8561328797749264498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/11/pengertian-zuhud.html' title='Pengertian Zuhud'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-1384602809959474759</id><published>2009-11-04T01:54:00.000-08:00</published><updated>2009-11-06T17:02:08.311-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Copel Mhd Adit'/><title type='text'>Pengertan tawakal</title><content type='html'>Pengertian Tawakal &lt;br /&gt;Pr Dari &lt;a href="http://www.pak-gunawan.blogspot.com"&gt;Pak Gun &lt;a href="http://www.mhd-aditya.blogspot.com"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tingkatan-tingkatan tawakal antara lain: tawakal level awwam, tawakal khawas, tawakal khawasul khawas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal berasal dari kata “wakal” yang berarti “mewakilkan”. “Tawakkal” berarti memberikan perwakilan, kepasrahan, dan penyerahan diri kita kepada Allah. “Tawakkal” ialah menyamakan yang ada pada diri manusia, banyak ataupun sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, sepanjang kita masih mau membedakan yang banyak dan yang sedikit di dalam diri kita, maka kita bukanlah orang yang bertawakal. Biasanya kalau kita diberikan banyak, maka kita berterima kasih, tetapi jika diberi sedikit ataupun tak diberi, maka kita mengeluh. Kata-kata banyak dan sedikit bagi orang yang sudah bertawakal kepada Allah tidak lagi menjadi signifikan. Sudahkah kita seperti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendapat lain menyatakan, bahwa tawakal adalah menanggalkan keinginan yang bersifat abstrak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada orang yang hidup dengan angan-angan, bercita-cita untuk menjadi ini dan itu. Orang yang bertawakal takkan dibuai oleh angan-angan. Orang yang bertawakal angan-angannya hanyalah ingin menyerahkan dirinya dan Allah menerima dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal ialah ketetapan seorang hamba bersama Allah tanpa ketergantungan. Kalau kita masih tergantung kepada makhluk Allah, maka ini bukanlah tawakal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang istri takkan menggantungkan nasib sepenuhnya kepada suaminya. Demikian pula sebaliknya. Seorang karyawan takkan menggantungkan diri sepenuhnya kepada pimpinannya. Dia tergantung sepenuhnya kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal ialah menyempurnakan keyakinan kepada Allah. Keyakinan itu takkan terjadi kecuali dengan berbaik sangka kepada Allah, dan mempercayai sepenuhnya terhadap rezeki yang dijanjikan, serta meridhai terhadap ketentuan yang berlaku dari qadha’ dan qadarnya. Jika keyakinan seperti ini sudah sempurna di dalam hati kita, maka inilah yang dinamakan sebagai “tawakkal”.&lt;br /&gt;Selama kita masih mengira-ngira negatif terhadap qadha’ dan qadar Tuhan, berburuk sangka terhadap Tuhan, kecewa terhadap pemberian Tuhan, maka kita tidak termasuk sebagai orang yang “mutawakkilin”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tawakal ialah menyempurnakan keyakinan kepada Allah. Kalangan para sufi menganggap, bahwa tawakal adalah “maqam puncak” (anak tangga puncak).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-1384602809959474759?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/1384602809959474759/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/11/pengertan-tawakal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/1384602809959474759'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/1384602809959474759'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/11/pengertan-tawakal.html' title='Pengertan tawakal'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1987073519293303591.post-2328833573623069009</id><published>2009-09-30T02:24:00.000-07:00</published><updated>2009-09-30T02:40:33.164-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='1 JANUARI 2010'/><title type='text'>tugas agama</title><content type='html'>1.Sebutkan dan jelas arti dari Qalqalah Sugra?&lt;br /&gt;Qalqalah Sugra ( kecil ) secara istilah ialah jika huruf Qalqalah bertanda sukun asli atau bersukun di tengah kalimat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2.Tuliskan contoh dari seluruh Qalqalah Sugra ?&lt;br /&gt;1.QA (Qaf)&lt;br /&gt;2.TA(Ta)&lt;br /&gt;3.BA(Ba)&lt;br /&gt;4.JA(Jim)&lt;br /&gt;5.DA(Dal) &lt;br /&gt;3.tuliskan 4 kitab serta rasulnya penerimanya dan ringkasan isi kitab suci tersebut ?&lt;br /&gt;1.kitab Taurat&lt;br /&gt;Kitab Taurat diturunkan kepada nabi Musa as. Di Gunung Sinai. Isinya mengandung sepuluh hukum Tuhan yang dikenal dengan Ten Commandment. Kitab taurat adalah ajaran Allah dan merupakan petunjuk yang benar bagi kaum Bani Israil .Namun,setelah Nabi Musa wafat,mereka meyelewengkan ajaran Taurat dengan mengubah isinya sesuai hawa nafsu mereka.  Hal ini sesuai firman Allah dalam surah al-Maidah [5] ayat 44 sebagai berikut :&lt;br /&gt;”Sesunguhnya kami telah menurunkan kitab Taurat da dalamnya ( ada ) petunjuk dan cahaya ( yang menerangi ) yang dengan kitab ini di putuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerahkanya pada Allah,oleh orang-orang alim mereka dan para pendeta –pendeta mereka,disebabkan mereka diperinta memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.” &lt;br /&gt;2.Kitab Zabur&lt;br /&gt;Kitab Zabur diturunkan kepada nabi Daud as. Pokok ajaranya ialah tentang kewajiban meyembah Allah Yang Maha Esa. Adapun keterangan al-Quran yang menerangkan hal tersebut tersebut adalah firman Allah dalam surah al-Israh [17]ayat 55 berikut.: &lt;br /&gt;“Dan kami berikan Zabur kepada Nabi Daud.”&lt;br /&gt;	3.Kitab Injil &lt;br /&gt;Kitab Injil diturunkan kepada nabi Isa as. Pokok ajaranya secara garis besar sama dengan kitab-kitab allah yang diturunkan sebelumnya. Halini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Maidah [5]  ayat 46 berikut.:&lt;br /&gt;“Dan kami iringkan jejak mereka  (nabi-nabi Bani Israil) dengan Isa putra Maryam,membenarkan kitab yang sebelumnya yaitu taurat.Dan kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil,sedangkan di dalamnya(ada)petujuk dan cahaya ( yang menerangi)&lt;br /&gt;	4.Kitab al-Quran  &lt;br /&gt;al-Quran dalah kitab Allah yang terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Sebagai penyempurna kitab-kitab sebulumnya, kemurnian al-Quran sampai saat ini dan seterusnya akan terpelihara keaslianya. Allah menjamin bahwa al-Quran  akan selalu terjaga keaslian dan kemurniannya sampai akhir zaman. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Hijr [15] ayat 9 berikut  ini.:&lt;br /&gt;“sesunguhnya kami telah menurunkan Adz Zikir (al-Quran ) dan sesunguhnya kami yang akan tetap memeliharanya.”&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1987073519293303591-2328833573623069009?l=faras-shadiq.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/feeds/2328833573623069009/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/09/tugas-agama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2328833573623069009'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1987073519293303591/posts/default/2328833573623069009'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://faras-shadiq.blogspot.com/2009/09/tugas-agama.html' title='tugas agama'/><author><name>faras</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14364963258131534812</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/-fh-zGtXdtKc/Tj8Uu2W-_kI/AAAAAAAAAGE/Ps9Im2rQ-Io/s220/251396_112839625473542_100002425159276_128673_1374924_n.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
